Perkembangan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

Perkembangan Pendidikan Tinggi
Perkembangan Pendidikan Tinggi

Perkembangan Pendidikan Tinggi~ Dengan warna-warni yang selama ini disumbangkan oleh dunia pendidikan terhadap kehidupan bangsa, masih belum bisa dikatakan bahwa dunia pendidikan kita berprestasi di atas rata-rata. Mungkin juga perkembangan dunia pendidikan kita dapat dibilang standart.

Meskipun dalam Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional 2003 telah dinyatakan bahwa :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Hal tersebut masih belum bisa dikatakan sebagai acuan atau pedoman untuk menghasilakan sumber daya manusia yang memiliki kualitas terbaik, akan tetapi dengan dikeluarkannya pernyataan tersebut dapat menjadi suatu upaya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dalam pendidikan yang ditempuh tiap-tiap individu, harus memiliki unsur-nsur yang menjadikan sumber daya manusia tersebut dapat berkembang dengan baik, tak terkecuali dalam perguruan tinggi.

Perguruan tinggi yang dianggap sebagai institusi yang tidak hanya bernuansa memberikan penelitian serta pendidikan saja, juga harus memberikan bahkan membentuk suatu sikap serta sikap individu dalam bertindak secara mandiri. Hal yang dijelaskan tadi dapat berupa menghindari segala tindakan kekerasan (violence) seperti aksi pemukulan atau penganiayaan dan tindakan ketidak jujuran akademis (academic dishonesty) seperti kasus penjiplakan(plagiarism), perjokian, dan cheating.

Pendidikan tinggi yang dapat ditempu dengan berbagai macam jalur serta berbagai gelar yang didapat juga mengalami pasang surut pendidikan. Berbagai isu-isu yang mampu serta memiliki dampak negatif maupun positif terhadap perkembangan pendidikan itu sendiri meliputi kualitas pendidikan tinggi, isu universitas perintis, polemikteaching university vs research university, konversi IKIP menjadi universitas dan isu otonomi perguruan tinggi yang ditandai dengan diberinya status perguruan tinggi berbadan hukum (PTBH) bagi UI,ITB,UGM dan IPB sebagai implementasi PP Nomor 61 tahun 1999.

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia ternyata juga banyak didukung oleh partisipasi aktif perguruan tinggi swasta yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah perguruan tinggi negeri.

Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai akreditas yang telah dicapai oleh perguruan tinggi swasta di Indonesia seperti Univ Nomensen Medan, Univ Bung Hatta Padang, UMI Makassar, Univ 45, Univ Klabad Manado, STIE/STISIPOL Panca Bakti Palu, Unisa Palu dan Unismuh Palu.

Demikian artikel yang membahas mengenai Perkembangan Pendidikan Tinggi, Akreditas Universitas Indonesia. Semoga artikel yang sederhana ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan refrensi anda.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms:

Bauran Teknologi Pendidikan Masa Kini  

Teknologi PembelajaranDunia Pendidikan Pendidikan yang mengalami berbagai perkembangan serta pembaruan yang dilakukan dengan tujuan utamanya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Yah, tentu saja hal tersebut tidak lagi slogan yang harus terpampang akan tetapi sudah seharusnya tertanam dari dalam diri semua warga negara yang baik.

Segala bentuk pendidikan yang menjadikan semua warga negara yang etrtib taat terhadap aturan budi pekerti luhur semakin digalakkan dan dikembangkan dengan berbagai perspektif. Misalnya saja pada pendidikan kewarganegaraan yang pada saat ini mengalami baruran teknologi yang sangat modern.

Tak hanya itu, bauran teknologi yang dilakukan dalam dunia pendidikan tidak hanya berdampak bagi perkembangan nilai pendidikan saja, akan tetapi sikap dan nilai antusiasme dalam belajar juga lebih meningkat dari penerapan sebelumnya.

Sungguh sangat bermanfaat peran teknologi yang ada terhadap dunia pendidikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ada pada bangsa ini. Warna-warni teknologi yang bermunculan sangat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ada.

Akan tetapi banyaknya teknologi yang ada kerap kali mengalami penyalahgunaan teknologi terhadap penggunaan. Misalnya saja, teknologi internet yang dimanfaatkan oleh anak didik yang berusia dini untuk menonton film biru atau film yang berbau pornografi.

Dari sini juga ditanyakan apa bauran teknologi yang ada pada pendidikan masa kini telah mengalami kesalahan strategi ? tentu saja tidak sepenuhnya, mengingat bahwa semua anak didik yang ada diseluruh Nusantara merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya dari pihak penyelenggara kebijakan pendidikan saja.

Teknologi yang merupakan serangakaian media yang berisikan ilmu pengetahuan yang membantu peradapan manusia modern tentu saja harus digunakan sebaik mungkin agar manfaat yang ada pada teknologi mampu tersalur dengan optimal.

Sehingga dari sini juga dapat dikatakan bahwa pada pendidikan masa kini selain memperhatikan teknologi sebagai media pembelajaran, pada saat memberikan pendidikan motivasi dan prestasi belajar siswa harus lebih diperhatikan prosesnya, agar tidak terjadi penyalahgunaan dari berbagai bidang.

Motivasi Belajar Siswa

Walaupun berbagai macam istilah yang digunakan oleh para ahli dalam menyatakan hakekat motivasi tersebut, namun secara umum motivasi didefinisikan sebagai kondisi internal yang memunculkan, mengarahkan,dan menjaga sebuah perilaku. Dalam definisi demikian, maka pada dasarnya motivasi merupakan proses  yang terjadi didalam diri individu yang mengarahkan aktivitas individu mencapai tujuan yang perlu didorong dan dijaga.

Sebagai sebuah proses, motivasi bukanlah sebuah produk, sehingga tidak mudahdiamati secara langsung, tetapi dapat diketahui indikatornya dari perilaku yang tampak, seperti pemilihan tugas-tugas, usaha, keteguhan dan ucapan-ucapan secara verbal. “Saya yakin dapat menyelesaikan tugas-tugas ini ” misalnya. Dalam motivasi mengandung tujuan-tujuan(goals) yang memberikan energi penggerak  untuk mengarahkan tindakan seseorang. Bagi aliran kognitif, tujuan-tujuan merupakan elemen yang penting dalam memunculkan motivasi.

Prestasi Belajar Siswa

Saifuddin Azwar (2009: 9) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bentuk penampilan maksimal seseorang dalam menguasai bahan atau materi yang telah diajarkan. Ini berarti berupa sebuah kemampuan yang dapat diraihdan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Kemampuan ini ditunjukkan dengan penguasaan terhadap suatu materi pembelajaran yang dibuktikan melalui suatu keberhasilan dalam menyelesaikan pelatihan.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah suatu usaha maksimal yang dilakukan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran di kelas yang diakhiri dengan tes, berupa kemampuan menguasai dan memahami materi pembelajaran siswa, diwujudkan dalam bentuk angka atau huruf atau kalimat yang menginformasikan sejauh mana penguasaan dan pemahaman materi pembelajaran.

Demikian artikel yang membahas mengenai Pendidikan Masa Kini, Bauran Teknologi Pendidikan, Motivasi Belajar Siswa, Prestasi Belajar Siswa. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Incoming search terms:

Model Pendidikan Karakter

Model Pendidikan
Model Pendidikan

Model Pendidikan~  Pendidikan karakter seniri merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah memudarnya jati diri bangsa lewat pembentukan karakter bangsa itu sendiri. Hal tersebut semakin dibuktikan dengan berbagai sosialisasi yang dilaksanakan oleh pemerintah diberbagai lingkungan.

pendidikan karakter seniri harus dikenal diberbagai lingkungan terutama di lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah, di lingkungan Perguruan Tinggi pun tampaknya sedang digelorakan menjadi bagian integral dalam proses perkuliahan.

Dalam hal tersebut tentu saja membutuhkan sebuah model penerapan yang dianggap mampu untuk mengimplementasikan pendidikan karakter tersebut. Model penerapannya dapat berupa model otonomi, model integrasi, model ekstrakulikuler, model kolaborasi. Dalam hal ini yang menjadi acuan utama ialah model integrasi dan model kolaborasi.

Model integrasi seniri merupakan model yang dimana saling mengintegrasikan satu sama lain untuk pelasanaan pendidikan karakter itu sendiri. Pelajaran yang  ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pengajar karakter (character educator). Semua mata pelajaran diasumsikan memiliki misi moral dalam membentuk karakter positif siswa. Dengan model ini maka pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kolektif seluruh komponen sekolah.

Sedangkan model kolaborasi merupakan gabungan dari semua model yang telah ada dalam penerapan pendidikan karakter itu sendiri. Langkah yang ada dalam model ini merupakan upaya untuk mengoptimalkan kelebihan setiap model dan menutupi kekurangan masing-masing pada sisi lain.

Dengan kata lain model kolaborasi  merupakan sintesis dari model-model terdahulu. Pada model ini selain diposisikan sebagai mata pelajaran secara otonom, pendidikan karakter dipahami sebagai tanggung jawab sekolah bukan guru mata pelajaran semata. Karena merupakan tanggung jawab sekolah maka setiap aktifitas sekolah memiliki misi pembentukan karakter. Setiap mata pelajaran harus berkontribusi dalam pembentukan karakter dan penciptaan pola pikir moral yang progresif.

Model yang ada di atas dapat diumpamakan wadah yang memberikan ruang gerak pada pendidikan karakter. Selanjutnya agar gerak tersebut efektif dan efisien diperlukan pemilihan metode pembelajaran dalam upaya pembentukan karakter positif dalam diri siswa.

Demikian artikel yang membahas Mengenai Model Pendidikan Karakter, Tipe Kemitraan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai bahan acuan untuk refrensi anda.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms:

Struktur Organisasi Sistem Pendidikan Tinggi

Struktur Organisasi
Struktur Organisasi

Struktur Organisasi~ Sebaiknya dalam berorganisasi kita harus saling menjaga komunikasi antar intusi yang terkait, supaya hubungan antar keduanya berjalan dengan baik dan tidak terjadi hambatan dalam perjalanan berorganisasi. Baik itu hubungan antar organisai lini, organisasi staff, ataupun organisasi fungsional.

Didalam suatu organisasi pimpinan adalah yang mengatur bagaimana berjalannya suatu organisasi yang ia naungi, dia juga mempunyai wewenang untuk membuat peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap anggotanya.

Wewenang adalah Hak untuk melakukan sesuatu supaya tujuan yang dimaksud dapat tercapai, dengan wewenang inilah yang nantinya akan mengatur jalanya organisasi tersebut.

Staff Authority (wewenang staff) adalah Hak yang dipunyai oleh para tenaga ahli untuk menyarankan dan memberilan rekomendasi kepada personalia lini.

Line Autority  (wewenang lini) adalah Hak dimana atasan melakukan perintah atas bawahannya secara langsung.

Dan Functional Staff Authority (wewenang staff fungsional) adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staff dengan satuan-satuan lini.

Keburukan dari struktur organisasi ini adalah :

  1. komunikasi tidak terhubung dengan baik.
  2. banyak terjadi perbedaan pendapat.
  3. mengakibatkan persaingan yang tidak sehat.

Tak berbeda jauh dengan ulasan di atas, perguruan tinggi juga memiliki struktur organisasi yang sistematis. Adapun struktur organisasi perguruan tinggi, meliputi:

A. Susunan Organisasi Kementerian Pendidikan Nasional terdiri atas:

  1. Wakil Menteri Pendidikan Nasional;
  2. Sekretariat Jenderal;
  3. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal;
  4. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar;
  5. Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah;
  6. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi;
  7. Inspektorat Jenderal;
  8. Badan Penelitian dan Pengembangan;
  9. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa;
  10. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan;
  11. Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi;
  12. Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat;
  13. Pusat Data dan Statistik Pendidikan;
  14. Staf Ahli Bidang Hukum;
  15. Staf Ahli Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan;
  16. Staf Ahli Bidang Kerja Sama Internasional;
  17. Staf Ahli Bidang Organisasi dan Manajemen; dan
  18. Staf Ahli Bidang Budaya dan Psikologi Pendidikan.

B. Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Direktorat Pendidikan Tinggi

Pasal 419

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pendidikan Nasional.

Pasal 422

  1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi terdiri atas:
  2. Sekretariat Direktorat Jenderal;
  3. Direktorat Kelembagaan dan Kerja Sama; ( sebelumnya bernama Direktorat Kelembagaan )
  4. Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan; ( sebelumnya bernama Direktorat Akademik )
  5. Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan; dan ( sebelumnya benama Direktorat Ketenagaan/Ditnaga )
  6. Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. (sebelumnya bernama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat/DP2M)

C. Sekretariat Direktorat Jenderal

Pasal 424

Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:

  1. koordinasi penyusunan kebijakan, rencana, program, dan anggaran di bidang pendidikan tinggi;
  2. koordinasi pelaksanaan tugas di bidang pendidikan tinggi;
  3. pengelolaan data dan informasi di bidang pendidikan tinggi;
  4. koordinasi pelaksanaan tugas dan kerja sama di bidang pendidikan tinggi;
  5. pengelolaan keuangan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi;
  6. penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dan kajian hukum di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi;
  7. pelaksanaan urusan organisasi dan tata laksana di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi;
  8. pengelolaan kepegawaian di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi koordinasi enyusunan bahan informasi dan publikasi serta hubungan masyarakat di bidang pendidikan tinggi;
  9. pengelolaan barang milik negara di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi; dan
  10. pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidika Tinggi

D. Sekretariat Direktorat Jenderal terdiri atas:

  1. Bagian Perencanaan dan Penganggaran;
  2. Bagian Informasi dan Pelaporan;
  3. Bagian Hukum dan Kepegawaian; dan
  4. Bagian Umum.

Demikian artikel yang membahas mengenai Struktur Organisasi, Keburukan Struktur Organisasi, Struktur Organisasi Perguruan Tinggi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai bahan acuan refrensi anda.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms: