Penggunaan Sains Dan Teknologi Dalam Pendidikan

Sains Dan Teknologi Pendidikan
Sains Dan Teknologi Pendidikan

Sains Dan Teknologi Pendidikan~  Pada era yang modern saat ini, teknologi sudah menjadi bahasan paling utama sebagai alat atau sebuah sarana pembantu untuk meringankan setiap pekerjaan yang ada. Sedangkan sains dan teknologi sendiri sudah mengakar dan berkembang sedemikian pesatnya dinegara-negara maju yang ada dibelahan dunia ini.

Berbagai kemajuan yang ada di bidang sains dan teknologi bertjuan untuk meningkatkan taraf hidup seseorang serta berfungsi sebagai peningkatan kualitas hidup telah dipatenkan. Oleh karenanya tak heran bahwa pengukuran terhadap negara maju yang ada dilihat dari seberapa besar kualitas teknologi yang dimiliki oleh negara tersebut.

Karena kemajuan teknologi dianggap sebagai faktor yang utama pendukung suatu negara maju, pendidikan sains sendiri dianggap sebagai pilar terpenting dalam dunia pendidikan. Untuk mencapai tahap dimana sains menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, langkah terbaik adalah dengan memulai pendidikan sains sedini mungkin.

Hal ini dapat dilihat bahwa sejak sekolah dasar, anak-anak dibiasakan untuk mengenal serta mengaplikasikan sains yang ada terhadap kebiasaannya. Hal ini bertujuan agar menginjak usia dewasa seseorang tersebut tidak merasa asing dengan perkembangan sains dan teknologi yang sedemikan pesat.

Dengan kemampuan anak sekolah dasar yang sedemikian pesatnya dalam belajar, hanya dengan mengamati serta meniru mereka dapat melakukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Maka, apabila mereka diperkenalkan dengan konsep sains melalui percobaan sederhana, bisa dipastikan bahwa mereka mampu meciptakan serta mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dengan menciptakan penemuan sains dan teknologi.

Akan tetapi hal tersebut memiliki batasan pada pendidikan yang ada di Indonesia terutama pendidikan yang ada di pedesaan yang hanya menerapkan sistem hafalan dalam pendidikan, tenaga pendidik yang mengajar juga hanya menerapkan pembelajaran yang ada pada buku saja.

Dengan berbagai alasan yang dilontarkan mulai dari tidak tersedianya laboratorium untuk praktek tidak tersedia di sekolah. Padahal jika ditelisik dengan tidak tersedianya laboratorium bukan menjadi batasan yang besar untuk melakukan percobaan.

Mengingat saat ini banyak literatur buku yang disedikan untuk memberikan wawasan pembuatan laboratorium yang sederhana sebagai prasarana untuk praktek. Dengan menggunakan gelas plastik bekas minuman dan batang kayu, misalnya, guru dapat membimbing siswa untuk menciptakan sebuah alat pengukur kecepatan angin atau Anemometer demi menjelaskan konsep cuaca.

Dengan pembuatan laboratorium sederhana tersebut selain biayanya murah, juga mudah didapat, sehingga para siswa akan memiliki engalaman yang sangat bermanfaat dengan benda-benda tersebut.

Selain itu, siswa pun akan mendapatkan perasaan puas dan bangga atas pencapaiannya yang tentunya membawa efek baik untuk perkembangannya. Dari uraian yang telah dijabarkan diatas dapat dilihat begitu bayak manfaat teknologi pendidikan. Adapun manfaat teknologi bagi pendidikan meliputi:

  1. Teknologi pendidikan sebagai alat pengembangan pengetahuan para siswa.
  2. Dapat mewakili gagasan yang telah diberikan oleh pengajar.
  3. Sebagai saran informasi yang mendukung proses belajar siswa.
  1. Sebagai perbandingan perspektif, kepercayaan dan pandangan terhadap dunia.
  2. Bermanfaat sebagai media sosial dalam mendukung pelajaran siswa dengan berbicara.

Demikian artikel yang mebahas tentang Sains Teknologi Pendidikan, Manfaat Teknologi Bagi Pendidikan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagia anda.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms:

Latar Belakang Pendidikan Karakter

Latar Belakang Pendidikan
Latar Belakang Pendidikan

Latar Belakang Pendidikan~ Dalam dunia pendidikan telah hangat dan banyak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Dengan fakta yang menunjukkan bahwa karakter bangsa pada zaman globalisasi ini merosot dengan sangat tajam , hal ini lah yang melatarbelakangi munculnya pendidikan berkarakter.

Pendidikan sendiri dianggap sebagai suatu media yang paling jitu dalam mengembangkan potensi anak didik baik berupa keterampilan maupun wawasan. Oleh karena itu, pendidikan secara terus-menerus dibangun dan dikembangkan agar dari proses pelaksanaannya menghasilkan generasi yang diharapkan.

Demikian dengan Indonesia, bangsa kita juga tidak ingin menjadi suatu bangsa yang bodoh dan keterbelakang terutama dalam menghadapi zaman yang terus berkembang di era kecangihan teknologi dan komunikasi.

Maka perbaikan sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan, agar mampu menghasilkan sumber daya yang cerdas, terampil, mandiri, dan berakhlak mulia terus diupayakan melalui proses pendidikan. Sebagaimana tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional Nomor 20 Pasal 3 tentang sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretaif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 yang terakhir dijelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan :

Pendidikan akhlak (karakter) masih digabung dalam mata pelajaran agama dan diserahkan sepenuhnya pada guru agama.

Karena pendidikan karakter sendiri, yang pelaksanaannya sepenuhnya dibebankan pada guru agama saja. Terang saja hingga kini pelaksanaan dari pendidikan karakter itu sendiri belum mencapai batas yang optimal. Hal ini terbukti dari fenomena sosial yang menunjukkan perilaku yang tidak berkarakter.

Perilaku buruknya karakter atau tidak berkarakter dapat dilihat secara sekama dengan semakin maraknya terjadi tawuran antar pelajar, adanya pergaulan bebas, dan adanya kesenjangan sosial-ekonomi-politik di masyarakat, kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh pelosok negeri, masih terjadinya ketidakadilan hukum, kekerasan dan kerusuhan, dan korupsi yang mewabah dan merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat, tindakan anarkis, konflik sosial.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diembankan pada guru agama saja, akan tetapi juga pada semua pihak yang berkepentingan serta bersangkutan. Bahkan dalam langkah selanjutnya pendidikan karakter perlu dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, di seluruh instansi pemerintah, ormas, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, perusahan dan kelompok masyarakat lainnya. Juga dalam pelaksanaannya, pendidikan karakter memerlukan peneladanan dan pembiasaan.

Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berperilaku jujur, tolong-menolong, toleransi, malu berrbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungan kotor. Karena karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius, terus menerus dan proposional agar mencapai bentuk karakter yang ideal.

Ada 18 nilai dalam pendidikan karakter menurut Departemen Pendidikan Nasional, diantaranya ialah tangung jawab serta disiplin. Dalam hal ini yang dimaksud dengan tanggung jawab ialah seseoarang atau peserta didik harus mampu bertanggung jawab dengan penuh atas apa yang tlah ia perbuat dan lakukan sebagai cerminan bahwa dia telah memiliki karakter yang berkualitas.

Disiplin sendiri berarti harus sesuai dan tepat dengan ketentuan yang berlaku, sehingga dalam prakteknya peserta didik dapat dikatakan memiliki keprcayaan yang penih terhadap tanggungjawab yang seharusnya ia laksanakan.

Demikian artikel yang membahas mengenai Latar Belakang Pendidikan Karakter, Sistem Pendidikan Nasional, Nilai Pendidikan Karakter. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms: