Film Pendidikan Karakter

Film Pendidikan
Film Pendidikan

Film Pendidikan~  Film merupakan media visual yang dapat digunakan untuk media pembelajaran dalam dunia pendidikan. Terutama pendidikan karakter yang saat ini sedang gencar-gencarnya disosialisasikan pemerintah untuk semua lapisan masyarakat.

Film yang membawa makna khusus untuk menanamkan nilai-nilai yang bermoral dapat membentuk suatu kepribadian seseorang., terutama remaja pada era yang sangat modern saat ini sangat rentan terhadap tindakan yang negatif akibat arus globalisasi.

Oleh sebab itu film yang bertemakan pendidikan berkarakter haruslah diperhatikan penggunaannya sebagai media pembelajaran yang nantinya menjadi suatu sarana serta prasana pembentuk kepribadian bangsa.

Di Indonesia sendiri sudah banyak bermunculan film-film yang bertemakan pendidikan karakter. Dalam film tersebut digambarkan bahwa kondisi pendidikan semakin rentan terhadap arus globalisasi namun masih bayak diantara mereka memiliki motivasi besar akan dirinya yang mampu menjadi karakter berkualitas.

Dengan daya tariknya sendiri film memiliki sebuah sihir tertentu yang digunakan untuk membuat penonton menangis, tersenyum, ataupun terharu dalam hitungan detik saja. Dalam hal tersebut ternyata film memiliki hal-hal yang magic untuk mempengaruhi para penonton.

Dengan kata lain pemanfaatan dari film tersebut juga bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia kita dan untuk bangsa Indonesia kita sendiri. Pendidikan karakter di Indonesia dapat dilakukan dengan dibuatnya berbagai suatu unsur film mengenai perjuangan Indonesia mempertahankan idealisme dan keyakinan rasa cinta pada Indonesia, atau bahkan berbau pendidikan dengan menamkan nilai semangat yang pantang menyerah dalam mencari ilmu.

Membaca suatu isi fil tidak hanya menyorotkan berbagai gambar ke dalam mata, akan tetapi harus meresap ke dalam mata hati kita. Karena apa yang kita lakukan tentu saja harus sejalan dengan hati kita.

Menghadirkan sebuah film haruslah kompleks karena ia merupakan entitas yang ”hadir” dengan beragam latar belakang. Ia merupakan sebentuk seni sekaligus praktik sosial.

Dalam hal ini Turner berpendapat bahwa film yang hadir dan dihadirkan haruslah memiliki moral yang baik untuk mata serta batin kita. Hal tersebut merupakan bagian dari suatu tafsir, imajinasi, candraan ataupun produk kepentingan tertentu karena ia sudah tentu bukanlah medium yang netral dan bebas nilai.

Melalui film kita mampu membaca tampilan apa saja yang dihadirkan dalam film tersebut. Melalui film kita mampu membaca karakter bangsa kita, melalui fil kita mampu mendeteksi sejauh mana kemampuan kita menanggapi isi film tersebut.

Mengingat bahwa film merupakan media pembelajaran yang ampuh, dalam menghasilkan serta menghadirkan film yang berkualitas harus mengutamakan isi pesan moral dari film tersebut. Dalam menghadirkan film seseorang harus menanamkan nilai inspirasi yang merupakan dambaan besar penikmatnya sekaligus tantangan yang senantiasa seru bagi para sineas negeri ini.

Dalam dunia perfilman tentu saja antara satu film dengan film yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tak terkecuali dengan karakteristik film pendidikan yang meliputi:

  1. Menyiratkan suatu pesan moral yang boleh ditiru serta tidak ditiru
  2. Mengikuti norma serta adat istiadat
  3. Membentuk karakter disemua lapisan masyarakat
  4. Memiliki tujuan yang jelas
  5. Merupakan perantara untuk mendapatkan ilmu
  6. Memiliki durasi yang terbatas
  7. Konflik yang ditampilkan relatif datar
  8. Membentuk mental bangsa yang berkualitas
  9. Memiliki unsur-unsur yang dapat dicontoh, misalnya kedisiplinan
  10. sasarannya tepat sesuai dengan kemasan pesan

Demikian artikel yang membahas tentang Film Pendidikan Karakter, Komunikasi Pendidikan Karakter, Karakteristik Film Pendidikan Karakter. Artikel ini dibuat dengan tujuan agar artikel ini dapat dijadikan sebagai bahan refrensi untuk anda.

Artikel Tang Terkait:

Incoming search terms:

Problematika Pendidikan Islam Kontemporer

Pendidikan Islam Kontemporer
Pendidikan Islam Kontemporer

Pendidikan Islam Kontemporer~ Sepertinya masalah pendidikan tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan, karena soal ini akan selalu terkait dengan kontekstualitas kehidupan umat manusia sepanjang zaman.

Setiap perkembangan peradaban manusia sudah barang tentu selalu diikuti oleh berbagai dimensi kehidupan manusia itu sendiri, termasuk di dalamnya dimensi pendidikan. Berbagai pemikiran telah dikembangkan oleh para pakar tentang hakikat, makna, dan tujuan pendidikan.

Warna pemikiran itu sudah tentu amat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang dianut oleh para pakar tersebut. Akan tetapi, dengan segala perbedaan pandangan yang mereka kemukakan, dalam satu hal mereka sama-sama setuju bahwa pendidikan bertujuan untuk memberi bekal moral, intelektual, dan keterampilan kepada anak didik agar mereka siap menghadapi masa depannya dengan penuh percaya diri.

Dalam uraian di atas perlu kiranya dipahami bahwa pendidikan Islam saat ini mengalami banyak sekali masalah yang menjadikan pendidikan islam dinomorduakan.

Oleh karenanya. Dalam artikel kali ini Tesis Pendidikan akan memberikan wawasan mengenai masalah pendidikan islam, yang tujuan dari penulisan artikel ini ialah membangun persepsi bahwa pendidikan Islam penting dalam kehidupan sebagai penyempurna ilmu.

Munculnya gejala mengabaikan dimensi pendidikan, dalam arti akhlak mulia, di negara kita disebabkan beberapa hal meliputi:

  1. Pertama, landasan pendidikan kita lebih mengacu pada filsafat materialisme dan positivisme sehingga hasil pendidikan lebih dilihat dan dinilai dari aspek materi dan lahirian saja.
  2.  Kedua, dasar filosofi pendidikan kita telah menyimpang dari jiwa kemanusiaan yang hakiki.  Proses dan hasil pendidikan tidak banyak menampakkan wajah kemanusiaannya, tetapi justru sebaliknya, yang muncul adalah perilaku-perilaku yang menyerupai serigala, yaitu yang kuat memangsa yang lemah.
  3. Ketiga, kuatnya intervensi negara dalam dunia pendidikan sehingga banyak mereduksi ruang-ruang kreativitas dan imajinasi kemanusiaan. Akibatnya, produk pendidikan lebih banyak melahirkan manusia-manusia robot dan mekanis ketimbang manusia yang imajinatif, kreatif, dan berbudaya.

Umat Islam yang mengaku mengimani Al-Quran, tapi mayoritas mereka masih tertinggal di Dunia Ketiga dengan segala keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan itu, tampaknya masih terlalu jauh untuk dapat ditampilkan sebagai pencipta dan dan pembawa obor peradaban baru yang segar, yang mungkin menjadi alternatif  bagi umat manusia.

Kita mungkin sepakat bahwa peradaban yang akan datang itu haruslah sebuah peradaban yang ramah, yang menempatkan fitrah manusia pada posisi yang wajar, tidak pada posisi yang tanpa daya, dan tidak pula pada posisi yang congkak antroposentrik, yaitu tipe manusia yang dihasilkan oleh peradaban renaissance Eropa.

Dalam peradaban Barat (renaissance Eropa), pola pikir dan nalar telah mendominasi dunia pendidikan, sementara pola zikir dan cinta (hubb) menjadi sangat telantar. Manusia fikir dan nalar memang telah berhasil menaklukan alam secara spektakuler, tetapi ia semakin kehilangan orientasi spritual. Pada abad modern, peradaban renaissance Eropa telah melahirkan orang-orang seperti Nietzsche, Bertrand Russell, Sartre, dan lain-lain.

Pendidikan Barat mendasarkan diri pada penalaran dan rasionalitas, yang hal ini bertanggung jawab terhadap tumbuhkembangnya individualisme, skeptisisme, keengganan menerima hal-hal yang tidak dapat ditampilkan secara observasional, sikap menjauhi hal-hal yang bersifat teosentrik (Ilahiah), dan lebih cenderung ke hal-hal yang antroposentrik (basyariah).

Pendidikan Barat yang telah beberapa abad ini mendominasi dunia, bertolak dari ajaran yang memisahkan ilmu dari tata hirarki nilai, dan hanya menggunakan satu nilai saja, yaitu objektif-netral. Ilmu dan teknologi dikembangkan objektif tidak memihak.

Islam mengembangkan ilmu bertolak dari Iman, Islam, dan Ihsan. Ilmu dan teknologi dikembangkan untuk memupuk keimanan kita, bukan untuk mengeroposinya. Metodologi berpikir harus tertata sinkron dan sekaligus koheren dengan keimanan kita kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan takdir.

Di samping itu, pendidikan juga harus memperhatikan abilitas manusia. Dalam hal ini, Gardner (1983) memetakan abilitas manusia ke dalam tujuh kategori komprehensif yang disebut dengan multople intelligence atau kecerdasan multipel.

  1. Intelegensi linguistik (linguistoc intelligence), berupa kemampuan manusia untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik lisan maupun tulisan, bukan hanya sekedar membaca, berbicara, dan menulis secara nominal.
  2. Intelegensi logikal matematikal (logical-mathematocal  intelligence), berupa kemampuan manusia dalam menggunakan angka-angka secara efektif, yang diharapkan nanti anak didik dipersiapkan menjadi ahli matematika, akuntan pajak, atau ahli statistik.
  3. Intelegensi spasial (spacial intellegince), berupa kemampuan manusia untuk mencerna dunia visual secara akurat, seperti pengembangan kecakapan dalam bidang keterampilan artistik, dekorasi interior, dan arsitektur.
  4. Intelegensi bodily kinesthetoc intelligence, yaitu kemampuan manusia dalam menggunakan  anggota badan untuk mengekspresikan ide dan perasaan, seperti aktor, badut, penyanyi, dan atlit.
  5. Intelegensi musikal (musical intelligence), yaitu kemampuan manusia dalam mempersepsi, membedakan, mentransformasikan, dan meng-ekspresikan aneka bentuk musik, termasuk sensitivitas ritme, melodi, dan jenis musik.
  6. Intelegensi interpersonal (interpersonal intelligence), yaitu kemampuan manusia dalam mempersepsi dan membuat perbedaan dalam suasana, intensi, motivasi, dan perasaan orang per orang, termasuk sensitivitas ekspresi muka, suara, mimik, kemampuan membedakan aneka ragam wacana interpersonal, dan kemampuan merespons wacana interpersonal secara pragmatis.
  7. Intelegensi intrapersonal (intrapersonal intelligence), yaitu kemampuan untuk bertindak sesuai dengan basis keilmuan yang ada padanya, misalnya, kemampuan untuk memahami diri sendiri secara akurat, baik keunggulan maupun kelemahannya. Inteligensi ini dapat juga melihat kesukaan pribadi, intensi, motivasi, temperamen, disiplin diri, memahami diri sendiri, dan harga diri.

Demikian artikel yang membahas mengenai Problematika Kontemporer Islam, Faktor Pengabaian Pendidikan Islam, Abilitas Manusia. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai acuan refrensi anda.

Artikel Yang Terkait: 

Incoming search terms:

Pentingnya Pendidikan Karakter

Pentingnya Pendidikan
Pentingnya Pendidikan

Pentingnya Pendidikan~  Kini setelah mengetahui banyak  fakta mengenai pelanggaran moral , apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, pada zaman globaisasi ini banyak sekali pihak terutama anak didik yang selalu menomorduakan kebaikan moral, bahkan mengabaikan aturan moral yang ada.

Dalam memberikan pendidikan karakter tidak hanya di dapat dalam lembaga pendidikan saja akan tetapi dalam lingkungan sosial serta masyarakat Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Terang saja perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.

Bayangkan persaingan yang terjadi pada tahun yang akan datang ? jelas saya kalau kita tidak mempersiapkan diri dengan baik kita akan tertinggal jauh dengan bangsa lainnya. Tuntutan pada tahun yang akan datang merupakan tuntutan yang memang harus disiapkan dengan baik yaitu tentang kualitas sumber daya manusia yang berkualitas.

Dari ulasan di atas, Tesis Pendidikan dalam artikel kali ini tertarik untuk membahas seputar pentingnya pendidikan karakter, yang penulis berharap dari artikel kali ini akan menambah wawasan anda.

Karakter sendiri dapat diartikan sebagai ciri khas dari seseorang, gambaran dari orang tersebut. Karakter yang dimiliki oleh seseorang bisa memberikan gambaran kepada kita tentang kepribadian orang tersebut.

Tak terkecuali dengan karakter bangsa, karakter bangsa sendiri memilki artian yaitu keseluruhan sifat yang dimiliki oleh suatu bangsa yang sifat tersebut meliputi perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, serta nilai-nilai yang ada.

Melalui pendidikan inilah karakter bangsa diharapkan mampu dikembangkan secara potensial dan memiliki kualitas karakter yang dapat dikatakan sebagai kualitas bangsa. Oleh sebab itu sebagai anak bangsa yang baik sudah sepatutnya kita semua memanfaatkan pendidikan dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.

Segenap upaya harus dilakukan demi kelancaran sebuah pendidikan karakter yang menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal itu tentunya membutuhkan campur tangan pemerintahan yang harus ikut andil dan berperan aktif dalam hal tersebut.

Sebagai bukti bahwa pemerintah telah ikut berperan aktif, dibuktikan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sesuai dengan fungsi pendidikan nasional, pendidikan karakter dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Potensi pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga Negara Indonesia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila

Demikian artikel yang membahas mengenai Pentingnya Pendidikan Karakter, Bentuk Turunnya Pendidikan Karakter, Fungsu Pendidikan Karakter. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai bahan acuan untuk anda.

Artikel Yang Terkait:

 

Incoming search terms: