Maraknya Penghindaran TOEFL Padahal Sekolah Dan Kerja Butuh TOEFL

TOEFLKemampuan TOEFL~ Pada dasarnya kemampuan seseorang bisa diukur dari bagaimana orang tersebut bersikap serta berfikir. Akan tetapi tahukah Anda selama ini apa saja yang dijadikan acuan untuk pemenuhan kebutuhan sebagai sarana penunjang kemampuan tersebut ? Yah tentu saja sebuah pengetehuan.

Pengetahuan merupakan suatu media informasi yang ada dalam diri seseorang. Pengetahuan sendiri tidak dapat diukur dengan kasat mata. Terkadang penegtahuan juga diukur dari sebuah ujian atau test yang diadakan. Baik diadakan dari lembaga yang formal ataupun lembaga yang nonformal.

Misalnya saja, ketika duduk disekolah dasar kemampuan berfikir peserta didik diketahui dari nilai-nilai yang ia dapat. Nilai yang ia dapat diperoleh dari sebuah test yang bentuknya lisan ataupun tulisan.

Pengetahuan tidak hanya berupa perhitungan saja akan tetapi juga kecakapan dalam berbahasa. Kecakapan tersebut berupa mampu berbahasa Nasional, Lokal, dan Bahasa Asing. Saah satu kecakapan dalam berbahasa asing yang saat ini mark dibicarakan adalah Bahasa Inggris.

Terkadang penilaian akan kecakapan berbahasa Inggris dinilai dari hasil TOEFL individu tersebut. Lantas apa sebenarnya yang  disebut dan dimaksud dengan TOEFL ? seberapa pentingkah TOEFL ?. mari kita simak.

Pada dasarnya TOEFL merupakan pegukuran kemampuan dalam berbahasa Inggris yang dilakukan pada saat memasuki sebuah perguruan tinggi. Di Amerika TOEFL merupakan uji kecakapan berbahasa Inggris bagi calon mahasiswa yang mendaftar perguruan tinggi yang diselenggarakan bagi calon mahasiswa yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris.

Lantas apa hanya di Amerika saja pelaksanaan TOEFL dilakukan ? dan jawabannya adalah TIDAK. Dewasa ini di Jakarta telah diselenggarakan berbagai uju kemampuan TOEFL sebagai tiket kaum muda yang ingin ke tingkat pendidikan global.

Bukan hanya dunia pendidikan saja yang membutuhkan TOEFL, tapi dunia kerja juga membutuhkan suatu kompetensi dalam berbahasa Inggris. Setiap individu yang memiliki skor TOEL di atas rata-rata akan mendapatkan posisi jabatan yang dinilai mampu menjangkau clien internasional.

Lantas dilihat dari sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia saat ini masih dapat dikatakan rendah. Banyak peserta didik ditingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi yang mash tidak menhhiraukan pentingnya TOEL. Bahakan sebagian dari mereka menghindarai adanya tes kemampuan TOEFL tersebut. Hal tersebut disebabkan oleh banyak alasan salah satunya adalah tingkat kesulitan yang ada pada TOEFL.

Demikian artikel yang berjudul Maraknya Penghindaran TOEFL Padahal Sekolah Dan Kerja Butuh TOEFL. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Pendayagunaan Akademisi Sarjana

Sarjana MendidikPendidikan Tinggi~ Gelar kesarjanaan yang diperoleh oleh seseorang dari penempuhan pendidikan yang dilalui dengan tidak mudah mungkin akan menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi mereka. Apalagi ditambah dengan jalur-jalur beasiswa pendidikan yang dapat diikuti jika memiliki prestasi yang lebih.

Dengan segenap motivasi yang dilahirkan dari dalam diri seseorang akan lebih memiliki usaha yang kuat, giat, dan kuat lagi untuk memandang masa depan dari arah yang sejajar dengan mata. Dengan harapan penuh akan cita-cita segala hambatan akan diterpa sedemikian rupa.

Akan tetapi jika semuanya telah mampu diwujudkan, apa kontribusi yang mereka berikan ? terutama pada sarjana-sarjana yang berlatar belakang pendidikan, apa yang mereka berikan pada bumi pertiwi ini ? tentu jelas padat dan singkat, mereka akan berdiri dan kembali mencapai segenap tujuan pendidikan yang ada.

Dengan harapan yang pasti, tekat yang kuat sarjana akan menjadikan dirinya berguna untuk sesama, mereka akan satu misi dengan pemerintah yang saat ini dengan giat mengadakan berbagai program untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tercatat sebanyak 13.877 pendaftar peserta SM-3T yaitu Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal, 3.173 lolos pada tahap tes yang dilakukan secara online. Pada tes ini terhitung sebagai angkatan ke IV yang selanjutnya akan mengikuti tahap wawancara.

Dalam program ini mendapatkan peningktan jumlamlah peserta yang ada, pada tahun 2013 tercatat sebanyak 12.02 yang mengalami peningkatan sebanyak 13.877 peserta pada tahun ini. Peningkatakn yang terjadi ini disebabkan oleh bertambahanya pengetahuan masyarakat akan program SM-3T.

Denngan slogan “Mari Kita Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia Menjadi Sarjana Mendidik Bangsa Menujulah yang Terdepan Gapai Mereka yang Terluar”, diharapkan mampu mewujudkan segala nilai, cita-cita, dan harapan segala bangsa yang ada.

Pengertian Sarjana

Mungkin sebagain dari kita masih awam mendengar arti kata sarjana, yang jika diartikan lebih luasnya lagi hanya sebagai seseorang yang telah lulus dari universitas. Padahal jika ditelisik dengan baik pengertian sarjana tidak hanya sebatas itu saja.

Sarjana merupakan gelar yang diberikan kepada seseorang ketika telah berhasil menyelesikan berbagai studinya di bangku perkuliahan pada program Strata 1 atau S1. Gelar yang didapat nantinya akan menjadi salah satu jembatan selanjutnya untuk mendapatkan suatu pekerjaan.

Ada yang berpendapat juga bahwa sarjana merupakan salah satu jembatan terciptanya sebuah lapangan kerja yang baru. Hal tersebut ternyata banyak mendapatkan dukungan penuh, mengapa demikian ? karena bayangkan saja banyaknya universitas yang ada di Indonesia yang tiap tahunnya melepas mahasiswa lalu, dengan jumlah yang banyak mengalami penumpukan.

Dari hal tersebut akan melahirkan suatu masalah yang sangat kompleks, karena begitu banyaknya lulusan sarjana yang ada akan tetapi kurangnya lapangan kerja yang tersedia. Sehingga disarankan agar setiap mengenyam pendidikan diamanapun khususnya di Universitas seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja ketika lepas dari universitas tersebut.

Demikian artikel yang membahas mengenai Program Pendidikan, Beasiswa Pendidikan, Tujuan Pendidikan, Pengertian Sarjana, Permasalahan Lapangan Kerja. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Pelaksanaan Pembelajaran Kimia Pada Program RSBI di SMA

Tesis Pendidikan ~ Rendahnya persentase ketuntasan ketuntasan belajar bias disebabkan karena sebagian besar pembelajaran kimia yang dilakukan di SMA Negeri 1 Karanganyar masih menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning), sehingga siswa cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran kimia. Selain itu pembelajaran kimia yang dilakukan oleh guru juga belum sesuai dengan Permendiknas No. 79 tahun 2009 dimana pembelajaran pada program RSBI harus memenuhi empat dimensi yang sudah disebutkan pada paragraf keenam. Dari hasil pengamatan di dalam kelas, guru masih dominan menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran baik dalam penyampaian, penggunaan media dan penggunaan alat evaluasi.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya penelitian ini dilakukan antara lain:

  1. Belum ada penelitian terhadap pelaksanaan program RSBI (khususnya pada pembelajaran kimia) yang bersifat evaluative dan kebijakan,
  2. Pelaksanaan program RSBI perlu dievaluasi secara kualitatif dan kuantitatif, dan
  3. Hasil evaluasi itu dapat dijadikan sebagai informasi dan dasar bagi pengambilan kebijakan dalam proses pembelajaran kimia selanjutnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dilakukan suatu penelitian yang bersifat deskripsi kualitatif evaluatif terutama evaluasi tentang pelaksanaan pembelajaran kimia pada program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menggunakan model penelitian evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP) yaitu model evaluasi terhadap suatu program dari sisi konteks, input, proses dan output atau luaran. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Kimia pada Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMA Negeri 1 Karanganyar Kelas XI IPA Semester II pada Pokok Bahasan Koloid Tahun Ajaran 2010/2011”.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, dapat diidentifikasi masalah yang ada sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih terbiasa dengan kebiasaan lama (pembelajaran yang kurang variatif dan menempatkan siswa sebagai objek pembelajaran).
  2. Belum dilakukan evaluasi proses tentang pelaksanaan pembelajaran.
  3. Pelakasanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) belum diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran meliputi perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar,
  2. Mengetahui hambatan yang dihadapi serta usaha guru untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar dan
  3. Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri I Karanganyar.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan model penelitian Context, Input, Product and Process (CIPP). Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3, Guru Kimia kelas XI IPA dan Penanggung Jawab Program RSBI di SMA Negeri I Karanganyar. Teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Validasi data menggunakan triangulasi data yaitu mengumpulkan data sejenis dari berbagai sumber data yang berbeda.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dibedakan menjadi 2 yaitu analisis data untuk menghasilkan kesimpulan dari data empiris dan analisis data untuk rekomendasi.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pelaksanaan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar meliputi 3 aspek, yaitu perencanaan, proses dan penilaian hasil belajar. Dalam perencanaan guru telah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan cukup baik dan memiliki persiapan mengajar yang baik. Dalam proses pembelajaran, penggunaan metode dan gaya mengajar, penggunaan media dan sumber belajar sudah cukup baik. Namun untuk penggunaan Bahasa Inggris di dalam kelas guru belum melakukannya dengan baik. Penilaian hasil belajar yang diakukan oleh guru sudah cukup baik.
  2. Kendala yang dihadapi adalah kesulitan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa, belum mahirnya guru dalam menggunakan media pembelajaran, belum termanfaatkannya fasilitas laboratorium, dan kesulitan mengevaluasi aspek afektif dan psikomotor serta guru dan siswa kesulitan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi dalam proses pembelajaran. Sedangkan usaha yang dilakukan guru untuk meningkatkan keaktifan siswa adalah menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan. Usaha yang bisa dilakukan guru untuk meningkatkan proses pembelajaran adalah menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif dan disesuaikan dengan karakteristik siswa, menggunakan bilingual dalam proses pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar yang ada disekolah lebih optimal dan memberikan tugas yang lebih kepada siswa
  3. Dari 34 siswa di kelas XI IPA 3 sebanyak 58,82% siswa tuntas dalam pembelajaran kimia koloid.

Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Konstruktivisme Dengan Metode Demonstrasi disertai Model Pemberian Tugas

Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Konstruktivisme Dengan Metode Demonstrasi disertai Model Pemberian Tugas Ditinjau Dari Kemampuan Matematika Siswa di SMA

Latar Belakang Masalah

Penanganan kesulitan belajar siswa dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara sehubungan dengan program pengajaran yang digunakan, diantaranya adalah dengan melalui pemberian tugas dengan metode yang berbeda dengan metode semula. Pemberian tugas pada siswa dapat berbentuk sejumlah pertanyaan mengenai materi pelajaran Fisika, membuat rangkuman bab, membuat makalah dan mengadakan observasi. Dengan melaksanakan tugas siswa menjadi aktif belajar, terangsang untuk meningkatkan belajar yang baik, memupuk inisiatif dan tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan secara mandiri (tugas individual) dan secara kelompok (tugas kelompok). Teknik pemberian tugas ini bertujuan agar siswa memiliki prestasi belajar yang optimal karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melaksanakan tugas, maka pengalaman siswa dalam mempelajari suatu pelajaran dapat lebih terasah. Dengan adanya pemberian tugas kelompok siswa diharapkan saling bertukar pengalaman yang tentunya setiap siswa memperoleh pengalaman yang berbeda pada saat mempelajari materi atau masalah yang diberikan oleh guru.

Penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Puruhita W. P tentang pemberian tugas diperoleh kesimpulan bahwa pemberian tugas kelompok memberikan hasil yang lebih baik dari pada pemberian tugas individu. Pada penelitian tersebut digunakan metode eksperimen sebagai variabel penelitian dan pemberian tugas sebagai penyerta metode pengajaran.

Berdasarkan latar belakang masalah tentang konstruktivisme, Pemberian Tugas dan Kemampuan Matematika di SMA, maka akan dilakukan penelitian dengan judul: PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DENGAN METODE DEMONSTRASI DISERTAI MODEL PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA DI SMA.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah penelitian:

  1. Kurangnya kesadaran bahwa kemampuan siswa dalam menerima pelajaran 
tidak sama karena tiap siswa mempunyai tingkat kesulitan belajar yang 
berbeda-beda.
  2. Belum optimalnya perhatian akan faktor-faktor keberhasilan belajar siswa yang 
dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri (internal) maupun faktor 
lingkungan (eksternal).
  3. Penggunaan metode pembelajaran di sekolah belum efektif.
  4. Banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran tetapi dalam 
penggunaannya belum optimal untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
  5. Metode demonstrasi disertai pemberian tugas dapat gunakan dalam proses 
belajar mengajar Fisika di sekolah.
  6. Masih banyak dijumpai siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama 
dalam pelajaran eksakta belum mendapat penanganan yang efektif. Pembelajaran Fisika menggunakan Pendekatan Konstruktivisme dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian:

  1. Adakah perbedaan pengaruh antara pengajaran menggunakan pendekatan 
konstruktivisme dengan metode demonstrasi disertai tugas kelompok dan tugas 
individu terhadap kemampuan kognitif siswa?
  2. Adakah perbedaan pengaruh antara kemampuan Matematika siswa kategori 
tinggi, sedang dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa?
  3. Adakah interaksi pengaruh pengajaran melalui pendekatan konstruktivisme dengan metode demonstrasi disertai tugas dan kemampuan Matematika siswa 
terhadap kemampuan kognitif siswa?

E. Tujuan Penelitian 
Tujuan penelitian:

  1. Mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pengaruh antara penggunaan 
pendekatan konstruktivisme dengan metode demonstrasi disertai tugas 
kelompok dan tugas individu terhadap kemampuan kognitif siswa.
  2. Mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pengaruh antara kemampuan Matematika siswa kategori tinggi, sedang dan rendah terhadap kemampuan 
kognitif siswa.
  3. Mengetahui ada atau tidaknya interaksi pengaruh antara pembelajaran melalui 
pendekatan konstruktivisme dengan metode demonstrasi disertai tugas dan kemampuan Matematika siswa terhadap kemampuan kognitif siswa.

Penilaian kurikulum pendidikan 2013 dengan KTSP

Kurikulum Pendidikan

Kurikulum BaruAda hal yang aneh ketika mendapati akan penerapan sebuah kurikulum baru di dunia pendidikan. Yah kurikulum tersebut adalah kurikulum 2013. Hal aneh tersebut dapat berupa peleburan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial.

Selain itu penerapan serta perencanaan kurikulum 2013 terkesan tergesa-gesa hal tersebut dibuktikan dengan banyak penuturan bahwa kerancuan yang terjadi diberbagai lembaga pendidikan yang berupa ketidaktersedianya buku pedoman pendamping membuat sejumlah guru merasa bingung.

Mereka banyak menuturkan “katanya kurikulum sudah akan dimulai, tapi sampai sekarang tidak ada instruksi yang jelas”.

Pada dasarnya kurikulum terbaru 2013, semua ilmu pengetahuan akan dileburkan menjadi satu dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. Bahkan nanti jika pelaksanaan secara resmi dilakukan, di SD tidak akan ada mata pelajaran IPA atau IPS akan tetapi menjadi mata pelajaran tematik integratif.

Jika hal tersebut terjadi Disekolah Dasar tentu saja hal yang sama akan terjadi di Sekolah Menengah Atas. Dalam SMA tidaka akan lagi dibagi menjadi sub jurusan yang berbeda yaitu IPA, IPS, dan Bahasa, akan tetapi mereka berhak memilih kelas layaknya mahasiswa yang ada diperguruan tinggi. Lantas apa nanti akan berjalan efektif ?

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah bentuk yang ada dari suatu sistem pendidikan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan potensi peserta didik.  KTSP disusun bersama-sama oleh guru, komite sekolah / pengurus yayasan, konselor (BK) dan narasumber yang disupervisi oleh dinas pendidikan. KTSP ditandatangani oleh kepala sekolah, komite sekolah, dan kepala dinas pendidikan. KTSP disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada standar isi atau SI  dan standar kelulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. Penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam Undang-undang No. 20/2003 dan PP 19/2005.

Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP 2006. 25 

Adapun prinsip yang digunakan sebagai acuan pengembangan KTSP, meliputi:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Demikian artikel yang membahasa mengenai Penilaian Kurikulum 2013, Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu menambah luas wawasan Anda.

Artikel yang Terkait: