Pelaksanaan Pembelajaran Kimia Pada Program RSBI di SMA

Tesis Pendidikan ~ Rendahnya persentase ketuntasan ketuntasan belajar bias disebabkan karena sebagian besar pembelajaran kimia yang dilakukan di SMA Negeri 1 Karanganyar masih menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning), sehingga siswa cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran kimia. Selain itu pembelajaran kimia yang dilakukan oleh guru juga belum sesuai dengan Permendiknas No. 79 tahun 2009 dimana pembelajaran pada program RSBI harus memenuhi empat dimensi yang sudah disebutkan pada paragraf keenam. Dari hasil pengamatan di dalam kelas, guru masih dominan menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran baik dalam penyampaian, penggunaan media dan penggunaan alat evaluasi.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya penelitian ini dilakukan antara lain:

  1. Belum ada penelitian terhadap pelaksanaan program RSBI (khususnya pada pembelajaran kimia) yang bersifat evaluative dan kebijakan,
  2. Pelaksanaan program RSBI perlu dievaluasi secara kualitatif dan kuantitatif, dan
  3. Hasil evaluasi itu dapat dijadikan sebagai informasi dan dasar bagi pengambilan kebijakan dalam proses pembelajaran kimia selanjutnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dilakukan suatu penelitian yang bersifat deskripsi kualitatif evaluatif terutama evaluasi tentang pelaksanaan pembelajaran kimia pada program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menggunakan model penelitian evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP) yaitu model evaluasi terhadap suatu program dari sisi konteks, input, proses dan output atau luaran. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Kimia pada Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMA Negeri 1 Karanganyar Kelas XI IPA Semester II pada Pokok Bahasan Koloid Tahun Ajaran 2010/2011”.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, dapat diidentifikasi masalah yang ada sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih terbiasa dengan kebiasaan lama (pembelajaran yang kurang variatif dan menempatkan siswa sebagai objek pembelajaran).
  2. Belum dilakukan evaluasi proses tentang pelaksanaan pembelajaran.
  3. Pelakasanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) belum diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran meliputi perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar,
  2. Mengetahui hambatan yang dihadapi serta usaha guru untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar dan
  3. Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri I Karanganyar.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan model penelitian Context, Input, Product and Process (CIPP). Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3, Guru Kimia kelas XI IPA dan Penanggung Jawab Program RSBI di SMA Negeri I Karanganyar. Teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Validasi data menggunakan triangulasi data yaitu mengumpulkan data sejenis dari berbagai sumber data yang berbeda.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dibedakan menjadi 2 yaitu analisis data untuk menghasilkan kesimpulan dari data empiris dan analisis data untuk rekomendasi.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pelaksanaan pembelajaran kimia pada program RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar meliputi 3 aspek, yaitu perencanaan, proses dan penilaian hasil belajar. Dalam perencanaan guru telah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan cukup baik dan memiliki persiapan mengajar yang baik. Dalam proses pembelajaran, penggunaan metode dan gaya mengajar, penggunaan media dan sumber belajar sudah cukup baik. Namun untuk penggunaan Bahasa Inggris di dalam kelas guru belum melakukannya dengan baik. Penilaian hasil belajar yang diakukan oleh guru sudah cukup baik.
  2. Kendala yang dihadapi adalah kesulitan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa, belum mahirnya guru dalam menggunakan media pembelajaran, belum termanfaatkannya fasilitas laboratorium, dan kesulitan mengevaluasi aspek afektif dan psikomotor serta guru dan siswa kesulitan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi dalam proses pembelajaran. Sedangkan usaha yang dilakukan guru untuk meningkatkan keaktifan siswa adalah menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan. Usaha yang bisa dilakukan guru untuk meningkatkan proses pembelajaran adalah menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif dan disesuaikan dengan karakteristik siswa, menggunakan bilingual dalam proses pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar yang ada disekolah lebih optimal dan memberikan tugas yang lebih kepada siswa
  3. Dari 34 siswa di kelas XI IPA 3 sebanyak 58,82% siswa tuntas dalam pembelajaran kimia koloid.

Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA

Tesis Pendidikan ~ Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA Sebuah Studi Kasus Di Sragen Bilingual Boarding School (SBBS)

Sekolah Nasional Bertaraf Internasional atau sering disebut Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didiknya berdasar standard nasional pendidikan (SNP) dan tarafnya internasional sehingga lulusanya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Proses peningkatan kualitas melalui program SNBI khususnya pada mata pelajaran Kimia ini menyangkut semua komponen sekolah yang meliputi kegiatan proses belajar mengajar sebagai komponen pokok dan komponen sekolah lainnya yang mendukung kegiatan belajar-mengajar seperti kepala sekolah, guru, laboran, teknisi, pustakawan, staf administrasi, perpustakaan, laboratorium dan bahkan lingkungan sekolah. Kepala sekolah memegang peranan penting karena posisinya sebagai menejer dan pimpinan. Proses peningkatan kualitas ini mengarah pada standard Sekolah Nasional Berstandard Internasional (Dirjen Kemendiknas, 2006: 3).

Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) adalah salah satu sekolah menengah atas (SMA) yang menjadi Sekolah Berstandard Internasional. Dalam pembelajaran Kimia SNBI ini, siswa SBBS diberikan kurikulum berstandard Internasional, dimana kurikulum mata pelajaran IPA (science) khususnya kimia diajarkan dengan bahasa Inggris. Diharapkan lulusan Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) nantinya mempunyai daya saing tinggi dan memiliki kompetensi yang mencukupi layaknya sekolah menengah di luar negeri. Selain itu, lulusan SNBI ini diharapkan akan lebih mudah jika ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Oleh karena itu peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang penyelenggaraan SBI di Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) dengan judul penelitian “Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA Sebuah Studi Kasus di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School (SBBS)”.

PerumusanMasalah

Masalah merupakan pakaian setiap manusia di dunia. Manusia yang tidak menginginkan masalah berarti sudah bosan akan kehidupan yang dijalaninya. Suatu masalah dapat diselesaikan jika ada motivasi individu dalam menyelesaikannya. Tanpa ada motivasi untuk menyelesaikan masalah maka masalah akan tetap ada. Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kamu sebelum kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

Setiap kegiatan penelitian harus diawali dengan merumuskan masalah penelitian. Adanya perumusan masalah yang jelas diperlukan agar dapat memberikan jalan yang mudah dalam pemecahan masalah. Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Problematika apa sajakah yang menghambat penyelenggaraan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada mata pelajaran kimia di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School ?
  2. Usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala yang menghambat penyelenggaraan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada mata pelajaran kimia di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School?

Tujuan Penelitian

Sedang tujuan penelitian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan program SBI di SBBS;
  2. Mengetahui usaha apa sajakah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut khususnya pada mata pelajaran kimia di SBBS.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah diskriptif studi kasus, dimana telah dilaksanakan Agustus 2009 hingga Januari 2010. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara, observasi, analisis dokumentasi dan kuisioner.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data meliputi pengumpulan, reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Sedangkan peeriksaan keabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi, meliputi triangulasi data dan metode. Sedangkan untuk prosedur penelitian meliputi tahap pra lapangan, kegiatan lapangan, analisis data dan penulisan laporan

Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan problematika yang dihadapai pengajar kimia meliputi bahasa, rendahnya peranserta siswa, metode yang digunakan serta kurangnya sarana laboratorium. Kemudian kendala yang dihadapi siswa adalah bahasa, pemahaman tentang chemistry English, dan mahalnya biaya sekolah. Kemudian kendala yang dihadapi sekolah adalah tidak tersedianya laboratorium kimia, dana yang terbatas serta minimnya referensi.

Tindakan yang telah dilakukan Pengajar Kimia untuk mengatasi kendala adalah mengikuti kegiatan zumre guru SBBS dimana juga diberikan pembelajaran bahasa Indonesia untuk membuat projek kimia tentang pembelajaran kimia yang dihadapi, video percobaan untuk memberikan gambaran secara visul tentang praktikum kimia. Sedangkan tindakan siswa adalah siswa memperkaya referensi dengan mencari buku penunjang, siswa menggunakan kamus/alfalink kimia. Untuk tindakan pihak sekolah adalah bekerjasama dengan UNS dalam penggunaan laboratorium kimia dan dosen serta mahasiswa pembimbing untuk memberikan pelajaran tambahan, menggalakan e-book, menyediakan hot spot dan laboratorium computer untuk mendukung penggalakan e-book.

Incoming search terms:

Apresiasi Impian Bumi Pertiwi

Senyum generasi MudaNilai PendidikanBumi pertiwi yang kaya akan keindahan alam, dengan harapan yang penuh terhadap setiap generasi muda bangsa yang berkualitas nampaknya saat ini telah mengalami kemunduran yang sangat spesifik.

Lihat saja banyaknya aksi tawuran antar pelajar yang seharusnya duduk dan mengapresiasikan berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah didapatkan di bangku sekolah menjadi liar tak terarah tanpa melihat saudara yang tinggal dipelosok desa yang terkadang harus berjuang keras mendapatkan pendidikan.

Perbedaan latar belakang yang sangat jauh berbeda memang mempengaruhi prinsip bahkan persepsi yang ada pada tiap-tiap generasi muda yang ada, akan tetapi jika mengingat kembali bahwa sesungguhnya apa yang diimpikan oleh bumi pertiwi akan pendidikan merupakan hal yang sama.

Generasi muda yang ada pada latar belakang pendidikan yang sudah sangat mudah diakses seharusnya lebih mengerti dengan jelas apa itu tujuan dari pendidikan yang ada. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya sebagai slogan semata, akan tetapi sudah seharusnya dijadikan suatu motivasi awal.

Pemerataan pendidikan yang ada saat ini yang sedang dikembangkan juga merupakan implementasi pendidikan dari berbagai tujuan yang akan ingin dicapai. Akan tetapi masih banyak generasi muda yang ada di Nusantara ini belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Padahal jika diingat kembali bahwa pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat primer untuk pembentukkan bangsa yang sangat berkualitas. Tak hanya sebatas itu bumi pertiwi yang kurang pendidikan ternyata juga mengalami keterbelakangan akan kesehatan.

Taraf kehidupan bangsa yang dikhawatirkan mengalami penurunan yang sangat drastis akan menjadi penyebab awal kehancuran suatu bangsa dan bernegara. Lalu apa hanya pemerintah saja yang bertanggungjawab akan hal tersebut ? tentu tidak, segala aspek dan bidang yang dijalankan merupakan tanggungjawab bersama dari segala pihak.

Ditambah lagi racun-racun yang ada dalam dunia pendidikan seperti maraknya narkoba, seks bebas, korupsi, kolusi, nepotisme dan masih banyak lagi yang semakin menambah tangis bumi pertiwi ini. Keadaan kelam mendapatkan nilai tambah lagi dengan adanya api panas dalam diri masing-masing melakukan aksi demonstasi besar-besaran satu sama lainnya.

Dunia yang semakin dipenuhi dengan berbagai kerusakan itu tak lantas menjadikan bumi pertiwi ikut kelam dan tenggelam dalam kerusakan dan selimut cemas yang ada. Bumi pertiwi tetap percaya diantara seribu generasi muda yang telah rusak masih ada satu generasi muda yang mampu membangkitkan seribu semangat  yang telah rusak.

Prestasi gemilang yang ditunjukkan oleh generasi muda dari berbagai bidang olahraga, seni dan budaya, teknologi dan akademik yang bahkan hingga ke tingkat internasional menjadi langkah awal terbentuknya generasi muda yang berkualitas. Prestasi yang berhasil diaraih seharusnya lebih ditonjolkan oleh negara, sehingga akan lebih mendorong setiap generasi muda yang lainnya agar lebih berprestasi lagi.

Yang menjadi jawaban besar dari sekian tulisan yang ada tentu saja, dengan pendidikan yang berkualitas akan menciptakan berbagai macam generasi yang akan bersatu padu dalam meraih prestasi setinggi mungkin.

Akan tetapi perlu diingat kembali bahwa pendidikan yang berkualitas didapatkan dari partisipasi berbagai pihak yang ada dalam dunia pendidikan. Baik penerima, penyelenggara, bahkan pendamping penerima pendidikan.

Oleh sebab itu, sudah lama bumi pertiwi merindukan atas apresiasi yang luar biasa dari berbagai imipian yang ada dari generasi muda bangsa. Bumi pertiwi merindukan berbagai senyum, tangis, dan tawa atas segal perjuangan yang ada dalam menempuh pendidikan.

Demikian artikel yang membahas mengani Tujuan Pendidikan, Implementasi Pendidikan, Latar Belakang Pendidikan, Perstasi Generasi Muda. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu menambah luas wawasan Anda.

Artikel yang Terkait:

Sarjana Mendidik Sebagai Motivasi Belajar Bangsa

Sarjana MendidikPendidikan Bangsa~ Pemerataan pendidikan sudah seharusnya berlangsung lebih cepat dari apa yang telh direncanakan. Dengan artian perkemabangan yang dilakukan harus sesuai dan sejalan dengan apa yang telah direncanakan.

Adanya program sarjana mendidik yang telah ditugaskan di berbagai temat yang sangat pedalaman menjadi bukti nyata dari implementasi pemerataan pendidikan. Ada banyak kasus yang ditemui dalam melaksanakan pendidikan, terutama tidak adanya motivasi yang ada dalam diri siswa.

Ada banyak siswa yang ada dalam suatu sekolah akan tetapi hanya ada beberapa saja yang hadir. Misalnya saja pada SD YPK Namber, Distrik Numfor Barat pada kelas II tercatat ada 20 anak yang ada, akan tetapi yang masuk hanya sejumlah 5 anak.

Kurangnya motivasi elajar yang dialami oleh naak-anak disebabkan oleh beragam alasan. Tidak adanya listrik, susahnya air menjadikan mereka hilang semangat dalam belajar, yang ada di pikran mereka hanya bagaimana cara menyambung hidup keseharian saja.

Padahal jika dilihat tugas mereka pada saat ini hanya belajar dengan baik dan benar, lebih ironisnya lagi mereka yang masih tercata sebagai siswa-siswi tidak pernah membunyai harapan dan cita-cita atas diri mereka sendiri. Bayangkan saja sekolah tanpa cita-cita ?

Dari sini pemerintah berusaha mewujudkan segala harapan bangsa dengan cara mengembangkan pendidikan diberbagai klaangan dan wilayah yang ada di Nusantara. Sehingga cita-cita bangsa sendiri mampu dicapai dengan optimal.

Pengertian Motivasi Belajar

Dengan “motif”  dimaksudkan  segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu(Nasution, 2000: 73).Dalam proses pembelajaran sering kali ditemukan seorang siswa yang tidak melakukan sesuatu hal sepertiyang seharusnya dilakukan oleh teman-temannya. Dalam hal ini perlu diselidikipenyebabnyayang tentu saja sangat beragam.

Ada kemungkinan siswa tidak mampu, malas, sakit, malu, sibuk mengerjakan tugas yang lain, bermasalah dalamkeluarga atau dengan  temannya, dan lain sebagainya. Melalui motivasi diharapkan siswa memiliki usaha dan mampu membangun kondisi, sehingga muncul keinginan dan minat serta ada kesediaan untuk melakukan sesuatu.

Dari ilustrasi di atas, istilah motivasi seringkali dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran.  Namun pada umumnya motivasi dikaitkan dengan psikologi pendidikan.Terkait dengan motivasi ini, dalam psikologi pendidikan dikenal beberapa teori, konsep atau model yang didasarkan pada cara berpikir dan sudut pandang serta latar belakang dari para ahli. Maka dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan salah satu komponen yang amat penting dalam pembelajarandan sekaligus merupakan sesuatu yang sulit diukur.

Fungsi Motivasi Dalam Pembelajaran

Dalam kehidupan sehari-hari, motivasi sering diartikan dengan: keinginan, hasrat, tekad, maksud, dorongan, kemauan, kebutuhan, kehendak, keharusan, cita-cita, kesediaan dan sebagainyayang berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi (Sardiman, A.M, 2001: 83).

Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi.Motivasi yang kuat dalam belajar akan menunjukkanprestasibelajar yang baik karena motivasi ini pulalah yang membuat orang mempunyai usaha yang tekun, telaten, serta rajin. Intensitas motivasi siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian hasil belajarnya.

Demikian artikel yang membahas mengenai Pemerataan Pendidikan, Pendidikan Anak Bangsa, Motivasi Belajar, Fungsi Motivasi Belajar. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Pembelajaran Outdoor Sebagai Antusiasme Belajar  

Outdoor LearningSemangat Belajar ~ Kendala yang dialami oleh berbagai dunia pendidikan ialah, maraknya kata malas yang diucapkan oleh siswa pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar. hal tersebut tentu saja sangat mempengaruhi nilai dan hasil dari belajar siswa.

Akan tetapi pada saat ini tidak perlu khawatir lagi dengan adanya perkembangan yang dilakukan dalm duni pendidikan tetu saja membawa dampak positif bagi kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan adanya perubahan kurikulum 2013 yang berlaku saat ini akan menjadi tombak tercipatanya bangsa yang berkualitas.

Seperti yang telah dipaparkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, Mohammad Nuh meminta agar para guru mengubah kebiasaannya itu pada kurikulum baru mendatang. Ia memparkan bahwa belajar tidak selalu dilakukan di dalam kelas.

Objek yang ada dalam kurikulum 2013 lebih mengacu pada fenomena alam, fenomena sosial, serta seni dan budaya. Oleh sebab itu, Kemendikbud menyarankan agar anak didik sesekali waktu harus belajar berada diluar ruangan.

Jika peserta didik mengerti sejak dini menganai berbagai fenomena yang telah dijadikan objek tentu saja akan memunculkan kesadaran sejak dini yang pada akhirnya akan mencegegah segala kerusakan yang ada di alam ini. Misalnya saja, tidak mebuang sampah sembarangan.

Dalam pembelajaran yang dilakukan diluar ruangan atau outdoor ini pada ahirnya guru dapat menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan mata pelajran yang ada. Misalnya saja menanyakan apa yang menjadi laasan matahari terbit dari Timur, fungsi matahari utuk kehidupan dan masih bayak lagi.

Dalam hal ini kativitas yang terjadi diluar ruangan memberikan manfaat khusus terhadap tumbuh kembang anak didik tersebut. Aktivitas yang cukup mampu membkar kalori yang dimiliki anak secara berlebihan tentu saja akan mencegah yang namanya obesitas.

Pembelajarandi Luar Kelas

Saat ini belum banyak guru yang menerapkan pembelajaran di luar kelas ( outdoor learning ). Banyak sekolah yang berfokus pada pembelajaran di dalam kelas ( indoor learning). Ahmad Saeifudin menyatakan “Bagi sebagian guru, indoor learning tak bisa ditawar – tawar. Padahal, ia memiliki banyak kelemahan, yakni sangat potensial membuat siswa jenuh, apalagi jika pelajaran itu kurang diminati”.

Siswa ditunjukkan relevansi pelajaran tersebut dengan konteks keseharian dalam kehidupan nyata. Siswa dibawa ke lingkungan sekitar sehingga dapat ditanamkan esensi, urgensi, dan relevansi pelajaran tersebut dengan kehidupan nyata. Dengan demikian siswa memperoleh pengalaman belajar secara komprehensif.

Di Indonesia yang mulai menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pembelajaran di luar kelas tepat untuk dikembangkan. Tenaga kependidikan terutama guru, perlu mengembangkan inisiatif, kreativiatas dan usaha untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Guru harus mampu mencermati dan memanfaatkan sumber- sumber belajar yang ada di dalam sekolah dan di luar sekolah.

Antusiasme Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia antusiasme diartikan sebagai gairah, minat besar, gelora, semangat. Jadi antusiasme mengandung unsur semangat dan minat yang besar dalam melakukan kegiatan belajar.

Nurdin Ibrahim mengatakan  “Sikap antusias dan keingintahuan siswa bisa terjadi melalui kontak pribadi antara guru dan siswa atau tutorial. Bila sikap tersebut muncul, hal itu akan memungkinkan seseorang memperoleh hasil belajar yang baik”.

Antusiasme belajar merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran. Antusiasme belajar mendorong siswa untuk memperhatikan materi yang ia pelajari dengan perasaan senang karena berhubungan dengan kebutuhan dan keinginan dirinya.Sikap tersebut mempengaruhi kualitas proses belajar sehingga turut menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

Demikian artikel yang membahas mengenai Semangat Pendidikan, Antusiasme Belajar, Kurikulum 2013, Obyek Kurikulum 2013, Pembelajaran Di Luar Kelas. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Incoming search terms: