Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA

Tesis Pendidikan ~ Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA Sebuah Studi Kasus Di Sragen Bilingual Boarding School (SBBS)

Sekolah Nasional Bertaraf Internasional atau sering disebut Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didiknya berdasar standard nasional pendidikan (SNP) dan tarafnya internasional sehingga lulusanya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Proses peningkatan kualitas melalui program SNBI khususnya pada mata pelajaran Kimia ini menyangkut semua komponen sekolah yang meliputi kegiatan proses belajar mengajar sebagai komponen pokok dan komponen sekolah lainnya yang mendukung kegiatan belajar-mengajar seperti kepala sekolah, guru, laboran, teknisi, pustakawan, staf administrasi, perpustakaan, laboratorium dan bahkan lingkungan sekolah. Kepala sekolah memegang peranan penting karena posisinya sebagai menejer dan pimpinan. Proses peningkatan kualitas ini mengarah pada standard Sekolah Nasional Berstandard Internasional (Dirjen Kemendiknas, 2006: 3).

Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) adalah salah satu sekolah menengah atas (SMA) yang menjadi Sekolah Berstandard Internasional. Dalam pembelajaran Kimia SNBI ini, siswa SBBS diberikan kurikulum berstandard Internasional, dimana kurikulum mata pelajaran IPA (science) khususnya kimia diajarkan dengan bahasa Inggris. Diharapkan lulusan Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) nantinya mempunyai daya saing tinggi dan memiliki kompetensi yang mencukupi layaknya sekolah menengah di luar negeri. Selain itu, lulusan SNBI ini diharapkan akan lebih mudah jika ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Oleh karena itu peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang penyelenggaraan SBI di Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) dengan judul penelitian “Problematika Pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Pada Mata Pelajaran Kimia SMA Sebuah Studi Kasus di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School (SBBS)”.

PerumusanMasalah

Masalah merupakan pakaian setiap manusia di dunia. Manusia yang tidak menginginkan masalah berarti sudah bosan akan kehidupan yang dijalaninya. Suatu masalah dapat diselesaikan jika ada motivasi individu dalam menyelesaikannya. Tanpa ada motivasi untuk menyelesaikan masalah maka masalah akan tetap ada. Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kamu sebelum kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

Setiap kegiatan penelitian harus diawali dengan merumuskan masalah penelitian. Adanya perumusan masalah yang jelas diperlukan agar dapat memberikan jalan yang mudah dalam pemecahan masalah. Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Problematika apa sajakah yang menghambat penyelenggaraan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada mata pelajaran kimia di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School ?
  2. Usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala yang menghambat penyelenggaraan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada mata pelajaran kimia di SMA Negeri Sragen Bilingual Boarding School?

Tujuan Penelitian

Sedang tujuan penelitian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan program SBI di SBBS;
  2. Mengetahui usaha apa sajakah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut khususnya pada mata pelajaran kimia di SBBS.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah diskriptif studi kasus, dimana telah dilaksanakan Agustus 2009 hingga Januari 2010. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara, observasi, analisis dokumentasi dan kuisioner.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data meliputi pengumpulan, reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Sedangkan peeriksaan keabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi, meliputi triangulasi data dan metode. Sedangkan untuk prosedur penelitian meliputi tahap pra lapangan, kegiatan lapangan, analisis data dan penulisan laporan

Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan problematika yang dihadapai pengajar kimia meliputi bahasa, rendahnya peranserta siswa, metode yang digunakan serta kurangnya sarana laboratorium. Kemudian kendala yang dihadapi siswa adalah bahasa, pemahaman tentang chemistry English, dan mahalnya biaya sekolah. Kemudian kendala yang dihadapi sekolah adalah tidak tersedianya laboratorium kimia, dana yang terbatas serta minimnya referensi.

Tindakan yang telah dilakukan Pengajar Kimia untuk mengatasi kendala adalah mengikuti kegiatan zumre guru SBBS dimana juga diberikan pembelajaran bahasa Indonesia untuk membuat projek kimia tentang pembelajaran kimia yang dihadapi, video percobaan untuk memberikan gambaran secara visul tentang praktikum kimia. Sedangkan tindakan siswa adalah siswa memperkaya referensi dengan mencari buku penunjang, siswa menggunakan kamus/alfalink kimia. Untuk tindakan pihak sekolah adalah bekerjasama dengan UNS dalam penggunaan laboratorium kimia dan dosen serta mahasiswa pembimbing untuk memberikan pelajaran tambahan, menggalakan e-book, menyediakan hot spot dan laboratorium computer untuk mendukung penggalakan e-book.

Kebijakan UKT Pendidikan Tinggi Yang Semakin Memadai

Pendidikan TinggiPendidikan Tinggi~ Sumber daya alam yang secara perkembangan jaman dituntut untuk lebih baik untuk menanggapi adanya oersaingan global pada abad 21 ini. Tentu saja dalam persaingan global tersebut sumber daya manusia yang ada dituntut memiliki kualitas yang dapat dikatakan jauh melebihi rata-rata standart yang telah ditentukan.

Berbicara masalah pendidikan, tentu saja kita akan mengenal banyak sekali kegiatan yang pada dasarnya memiliki tujuan mengembangkan pribadi masing-masing seseorang . dalam pendidikan hal utama yang sering kita lakukan adalah belajar, jika dahulu belajar hanya sebatas dengan menggunakan buku sebagai sumber dari ilmu pengetahuan pada zaman yang serba modern ini teknologi pun masuk kedalam dunia pendidikan.

Teknologi yang seringkali digunakan dalam dunia pendidikan ada umumnya adalah ineternet. Coba ingat-ingat kembali ketika kita akan mendaftar pada sebuah sekolah, perguruan tinggi atau pendidikan lainnya, lembaga tersebut memperuntukkan calon siswa atau mahasiswa mendaftar melalui internet atau yang lebih sering disebut dengan pendaftaran online.

Sebut saja beberapa tahun belakangan ini dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi menggunakan teknologi tersebut dalam kegiatan primernya. Milai dari pendaftaran, pemberian tugas, pengumpulan tugas dan yang lainnya. Dari kegiatan yang dilakukan oleh pendidikan tinggi tentu saja berdasarkan kebijakan yang telah ditentukan sebelumnya.

Berbicara masalah kebijakan sebenarnya dunia peendidikan khsusunya pendidikan tinggi telah mencanangkan berbagai kebijakan sebagai acuan pelaksanaan kegiatan yang ada dalam pendidikan tersebut. Misalnya saja pada uang kuliah tungal yang ada pendidikan tinggi yang mengikuti perkembangan zaman sudah semakin memadai.

Mengapa dikatakan dmeikian ? karena dalam pendidikan tinggi uang kuliah tunggal atau UKT elah disesuaikan berdasarkan kondisi ekonomi mahasiswa yang ada pada perguruan tinggi, khsusunya yang saat ini sedang marak adalah beasiswa Bidik Misi untuk akedemisi yang kurang mampu. Dari sini disadari bahwa pemerintah pun telah menyadari pentingnya pendidikan tinggi tidak hanya untuk mereka yang memiliki ekonomi atas tapi juga untuk mereka yang memiliki ekonomi bawah.

Dalam kebijakan UKT yang telah berlaku pada dasarnya telah ditentukan pada awal masuk perkuliahan sampai dengan kelulusan mahasiswa tersebut. Akan tetapi kini kebijakan UKT yang ada pada perguruan tinggi lebih memadai. Mahasiswa yang masuk dalam perguruan tinggi telah memiliki ketentuan UKTnya pada awal masuk, akan tetapi ketika ditengan jalan kondisi ekonomi mahasiswa tersebut menurun, akan diadakan pengajuan persyaratan pengurangan UKT dengan syarat yang telah ditentukan.

Adapun maksud dari syarat yang telah ditentukan tadi adalah mengajukan permohonan ke pihak kampus. Dewan kampus dengan izin Dikti akan mengatur ulang mekanisme perubahan bagi mahasiswa yang mengalami kondisi seperti itu. Namun perguruan tinggi diberikan kebebasan untuk membuat mekanisme sendiri mengenai perubahan UKT jika ada perubahan ekonomi dari mahasiswanya.

Jika masih belum ada respon positif yang ditunjukkan oleh perguruan tinggi, mahasiswa dapat emngirimkan surat permohonan pada Dikti Kemdikbud yang pada ahirnya Dikti akan memberikan rekomendasi nama mahasiswa tersebut ke Pembantu Rektor II di perguruan tinggi bersangkutan. Di setia program studi perguruan tinggi negeri mahasiswa dapat membayar UKT sebesar 0- Rp 500.000,00 ,-.

Demikian artikel yang membahas kebijakan Pendidikan Tinggi, Kebijakan Uang Kuliah Tunggal, Ketentuan Ditjen Pendidikan Tinggi. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan yang luas untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

Mengupas Ulang “Keberhasilan Pendidikan Kunci Sukses Suatu Daerah”

Teknologi PendidikanTeknologi Pendidikan~ Dalam persaingan global saat ini tentu saja dibutuhkan suatu senjata yang digunakan untuk menghadapi persaingan yang sangat dinamik ini. Salah satunya ialah dengan mendapati suatu pendidikan yang sangat berkualitas.

Hal tersebut pernah dipaparkan oleh Jokowi gubernur DKI Jakarta bahwa “pendidikan merupakan kunci sukses suatu daerah” Yah hal tersebut memang sangat bermanfaat bagi pendengar yang baik saat mendengarkan kata-kata itu.

Dalam menanggapai persaingan manusia-manusia yang berkualitas di dunia tentu saja kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Lantas mempersiapkan apa ? tentu saja mempersiapkan sumber daya manusia yang nantinya akan memegang peranan penting dalam dunia teknologi.

Berbicara masalah teknologi, mungin bangsa kita sudah tertinggal jauh dengan bangsa lainnya. Akan tetapi hal tersebut tidak boleh melemahkan nadi semangat yang ada dalam tubuh kita ini. Semangat itu dapat dilihat dengan berbagai pencipataan teknologi pendidikan yang dirancang sedemikian rupa untuk penunjang berhasilnya suatu pendidikan.

Misalnya saja pada pendiptaan teknologi pendidikan yang merancang sebuah media pembelajaran yang dapat dibilang inovatif. Hal tersebut salah satu contoh untuk menanggapi persaingan dunia ini. Oleh sebab itu sudah seharusnya sedini mungkin kita mengikuti perkembangan yang ada pada pendidikan.

Aplikasi Teknologi Pendidikan

Salah satu bidang ilmu yang menggarap tentang belajar, pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran. Pada awalnya penggunaan teknologi pendidikan disampingkan dengan teknologi pembelajaran. Dengan tujuan yang sama, penggunaan istilah “pembelajaran” dan “pendidikan” mempunyai konotasi yang berbeda. Istilah “pembelajaran” lebih sesuai dengan fungsi teknologi dan tidak hanya mencakup pendidikan dari TK sampai SMA, tetapi juga mencakup pelatihan atau  training. Pendapat lain beranggapan bahwa istilah “pendidikan” mempunyai cakupan lebih luas, dan pembelajaran juga termasuk salah satu bagian dari pendidikan.

Video Media Pembelajaran sebagai Aplikasi Teknologi Pendidikan

Untuk membuat proses pembelajaran dengan media video pembelajaran harus dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan cara menggabungkan efek-efek audio visual, musik dan gambar.

Karakteristik media video dapat berupa:

  1. Adanya objek yang bergerak
  2. Berwarna, bersuara, bergerak
  3. Adanya animasi
  4. Tidak memerluakan ruang gelap

Demikian artikel yang membahas tentang Kunci Sukses Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Media Pembelajaran Teknologi. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memberikan wawasan yang luas untuk Anda.

Artikel yang Terkait:

 

Apresiasi Impian Bumi Pertiwi

Senyum generasi MudaNilai PendidikanBumi pertiwi yang kaya akan keindahan alam, dengan harapan yang penuh terhadap setiap generasi muda bangsa yang berkualitas nampaknya saat ini telah mengalami kemunduran yang sangat spesifik.

Lihat saja banyaknya aksi tawuran antar pelajar yang seharusnya duduk dan mengapresiasikan berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah didapatkan di bangku sekolah menjadi liar tak terarah tanpa melihat saudara yang tinggal dipelosok desa yang terkadang harus berjuang keras mendapatkan pendidikan.

Perbedaan latar belakang yang sangat jauh berbeda memang mempengaruhi prinsip bahkan persepsi yang ada pada tiap-tiap generasi muda yang ada, akan tetapi jika mengingat kembali bahwa sesungguhnya apa yang diimpikan oleh bumi pertiwi akan pendidikan merupakan hal yang sama.

Generasi muda yang ada pada latar belakang pendidikan yang sudah sangat mudah diakses seharusnya lebih mengerti dengan jelas apa itu tujuan dari pendidikan yang ada. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya sebagai slogan semata, akan tetapi sudah seharusnya dijadikan suatu motivasi awal.

Pemerataan pendidikan yang ada saat ini yang sedang dikembangkan juga merupakan implementasi pendidikan dari berbagai tujuan yang akan ingin dicapai. Akan tetapi masih banyak generasi muda yang ada di Nusantara ini belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Padahal jika diingat kembali bahwa pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat primer untuk pembentukkan bangsa yang sangat berkualitas. Tak hanya sebatas itu bumi pertiwi yang kurang pendidikan ternyata juga mengalami keterbelakangan akan kesehatan.

Taraf kehidupan bangsa yang dikhawatirkan mengalami penurunan yang sangat drastis akan menjadi penyebab awal kehancuran suatu bangsa dan bernegara. Lalu apa hanya pemerintah saja yang bertanggungjawab akan hal tersebut ? tentu tidak, segala aspek dan bidang yang dijalankan merupakan tanggungjawab bersama dari segala pihak.

Ditambah lagi racun-racun yang ada dalam dunia pendidikan seperti maraknya narkoba, seks bebas, korupsi, kolusi, nepotisme dan masih banyak lagi yang semakin menambah tangis bumi pertiwi ini. Keadaan kelam mendapatkan nilai tambah lagi dengan adanya api panas dalam diri masing-masing melakukan aksi demonstasi besar-besaran satu sama lainnya.

Dunia yang semakin dipenuhi dengan berbagai kerusakan itu tak lantas menjadikan bumi pertiwi ikut kelam dan tenggelam dalam kerusakan dan selimut cemas yang ada. Bumi pertiwi tetap percaya diantara seribu generasi muda yang telah rusak masih ada satu generasi muda yang mampu membangkitkan seribu semangat  yang telah rusak.

Prestasi gemilang yang ditunjukkan oleh generasi muda dari berbagai bidang olahraga, seni dan budaya, teknologi dan akademik yang bahkan hingga ke tingkat internasional menjadi langkah awal terbentuknya generasi muda yang berkualitas. Prestasi yang berhasil diaraih seharusnya lebih ditonjolkan oleh negara, sehingga akan lebih mendorong setiap generasi muda yang lainnya agar lebih berprestasi lagi.

Yang menjadi jawaban besar dari sekian tulisan yang ada tentu saja, dengan pendidikan yang berkualitas akan menciptakan berbagai macam generasi yang akan bersatu padu dalam meraih prestasi setinggi mungkin.

Akan tetapi perlu diingat kembali bahwa pendidikan yang berkualitas didapatkan dari partisipasi berbagai pihak yang ada dalam dunia pendidikan. Baik penerima, penyelenggara, bahkan pendamping penerima pendidikan.

Oleh sebab itu, sudah lama bumi pertiwi merindukan atas apresiasi yang luar biasa dari berbagai imipian yang ada dari generasi muda bangsa. Bumi pertiwi merindukan berbagai senyum, tangis, dan tawa atas segal perjuangan yang ada dalam menempuh pendidikan.

Demikian artikel yang membahas mengani Tujuan Pendidikan, Implementasi Pendidikan, Latar Belakang Pendidikan, Perstasi Generasi Muda. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu menambah luas wawasan Anda.

Artikel yang Terkait:

Pembelajaran Fisika Dengan Metode Direct Instruction (DI) Ditinjau Dari Kemampuan Awal Matematika Siswa

Pembelajaran Fisika Dengan Metode Direct Instruction (DI) Ditinjau Dari Kemampuan Awal Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Gerak Melingkar Beraturan di SMA

Latar Belakang Masalah

Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa pengajaran IPA dan Matematika secara terpisah merupakan suatu hambatan bagi siswa untuk menyerap materi pelajaran tersebut secara optimal. Sering terjadi teknik Matematika tertentu sudah diperlukan dalam pengajaran IPA terutama Fisika tetapi belum diajarkan dalam pengajaran Matematika. Bahkan siswa pada umumnya berpendapat bahwa IPA dan Matematika adalah pelajaran yang sulit dikuasai. IPA dan Matematika sebenarnya akan sangat menarik jika keterkaitan kedua pelajaran ini dicermati oleh anak didik.

Fisika merupakan cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari gejala alam dan interaksinya dengan menerangkan bagaimana gejala-gejala alam tersebut terukur melalui penelitian dan pengamatan. Fisika terdiri dari produk- produk, nilai dan sikap ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran Fisika akan lebih baik apalagi disajikan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, misalnya direct intruction. Hal ini bertujuan agar prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.

Pembelajaran Fisika di sekolah-sekolah, masih banyak yang menggunakan matode ceramah. Dengan metode pembelajaran tersebut guru memegang fungsi penting dalam pembelajaran. Kebanyakan siswa merasa bosan pada saat guru ceramah di depan kelas sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan dengan baik. Metode ceramah digunakan karena alasan keterbatasan waktu atau tidak tersedianya fasilitas yang memadai di sekolah. Penggunan metode tergantung pada situasi dan kondisi pada saat proses belajar-mengejar berlangsung.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti mengajukan judul penelitian : PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE DIRECT INSTRUCTION (DI) DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL MATEMATIKA SISWA PADA POKOK BAHASAN GERAK MELINGKAR BERATURAN DI SMA TAHUN 2008 / 2009.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka penulis perlu untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul dalam penelitian ini terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar jelas apa yang akan diteliti.

Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Diperlukan sistem dan metode-metode baru dalam bidang pendidikan atau 
pembelajaran untuk mengembangkan potensi dan kemampuan siswa.
  2. Prestasi belajar setiap siswa tidak sama, oleh sebab itu perlu pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat, agar dapat mencapai hasil belajar 
yang optimal.
  3. Pengajaran Fisika memerlukan metode yang sesuai dengan materi yang 
disampaikan, sehingga siswa dapat memahami materi secara maksimal.
  4. Ada kemungkinan untuk mengganti metode ceramah dengan metode 
pembelajaran direct instruction untuk memperbaiki proses belajar-mengajar.
  5. Kemampuan pendukung pemahaman konsep, misalnya kemampuan Matematika akan mempermudah siswa dalam membangun struktur 
pemahaman konsepnya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.

Perumusan Masalah

Dengan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Adakah perbedaan pengaruh antara penggunaan pendekatan konsep melalui metode direct instruction dan ceramah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa .
  2. Adakah perbedaan pengaruh antara kemampuan awal Matematika siswa kategori tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.
  3. Adakah interaksi antara pengaruh penggunaan pendekatan konsep melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Matematika terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.

 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak adanya:

  1. Perbedaan pengaruh antara penggunaan pendekatan konsep melalui metode direct instruction dan metode ceramah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.
  2. Perbedaan pengaruh antara kemampuan awal Matematika siswa kategori tinggi danrendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.
  3. Interaksi antara pengaruh penggunaan pendekatan konsep melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Matematika terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.

Metode Penelitian Tesis

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2 x 2 dengan isi sel tidak sama. Populasi adalah seluruh siswa kelas X semester 1 SMA N I Jumapolo Tahun Ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling sejumlah dua kelas yaitu kelas X6 yang terdiri dari 40 siswa sebagai kelas eksperimen dan X7 yang terdiri dari 42 siswa sebagai kelas kontrol.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dengan teknik dokumentasi dan teknik tes. Teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data keadaan awal siswa yang diambil dari nilai ulangan harian Fisika pokok bahasan gerak lurus dan data kemampuan awal Matematika siswa yang diambil dari nilai ulangan tengah semester 1 mata pelajaran Matematika. Sedangkan teknik tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan kognitif Fisika siswa pada pokok bahasan Gerak Lurus Beraturan.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan isi sel tidak sama. Setelah uji anava dua jalan dengan isi sel tidak sama dilanjutkan dengan uji lanjut anava yaitu komparasi ganda metode Scheffe.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa:

  1. Ada perbedaan pengaruh antara penggunaan pendekatan konsep melalui metode direct instruction dan metode ceramah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa (Fhitung = 4,99 > 3,98). Dari hasil uji komparasi ganda diperoleh bahwa ada perbedaan rerata yang signifikan antara penggunaan metode direct instruction dan metode ceramah ( X A1= 67,3 > X A2= 61,1), sehingga kemampuan kognitif Fisika siswa dengan metode direct instruction lebih baik daripada metode ceramah;
  2. Ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal matematika siswa kategori tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa ( Fhitung = 11,82 > Ftabel = 3,98). Dari hasil uji komparasi ganda diperoleh bahwa ada perbedaan rerata yang signifikan antara kemampuan awal Matematika siswa kategori tinggi dan rendah ( X B1 = 68,3 > X B2 = 59,3 ), sehingga kemampuan awal Matematika siswa kategori tinggi memberikan pengaruh yang lebih baik daripada kemampuan awal Matematika siswa kategori rendah;
  3. Tidak ada interaksi pengaruh antara penggunaan metode pembelajaran dan kemampuan awal Matematika siswa terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa ( Fhitung = 0,77 < Ftabel = 3,98). Jadi antara pengaruh penggunaan metode pembelajaran dan kemampuan awal Matematika siswa mempunyai pengaruh sendiri-sendiri terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.