Internet Sebagai Sumber Informasi Dan Sebagai Akses Utama Pengumuman SBMPTN 2014

SBMPTN 2014SBMPTN 2014~ Jenjang pendidikan tinggi yang sekian lama mengalami perkembangan yang sangat pesat tentu saja disebabkan oleh berbagi faktor yang ada. Dalam dunia pendidikan tentu saja faktor pendukung utamanya ialah teknologi.

Contohnya saja pada pelaksanaan Seleksi Bersama Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri atau SBMPTN 2014 yang secara serentak digelar pada tanggal 17 Juni 2014 di berbagai wilayah. Sebelum pelaksanaan SBMPTN 2014 pertama-tama yang dilakuakan oleh peserta adalah melakukan pendaftaran, yang dilakukan secara online. Dari sini dapat dilihat bahwa awal muasal dari pelaksanaan SBMPTN 2014 adalah dengan menggunakan teknologi internet.

Dari penelusuaran yang terkait sebelum diadakannya pendaftaran SBMPTN 2014, tentu saja banyak dari peserta yang mengakses serta mencari berbagai informasi yang ada dari google kapan, bagaimana, dimana pelaksanaan pendaftaran maupun ujian SBMPTN 2014 akan berlangsung. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi atau peserta juga menggunakan teknologi internet sebagai sumber informasi.

Setelah ujian yang hanya memakan waktu satu hari tersebut telah dilakukan secara prosedur, sistem penilaian akan dilakukan juga berdasarkan teknologi yang ada. Bayangkan saja sebanyak 664.509 peserta yang ikut dilakukan penilaian secara manual ? Apa yang terjadi ? jelas saja akan memakan waktu yang sangat lama.

Hingga sampai pada tahap pengumuman yang akan dlaksanakan serentak tanggal 16 Juli 2014, sumber informasi yang akan digunakan masih tetap sama yaitu teknologi internet yang ada. Peserta yang mengikuti SBMPTN 2014 dapat mengaksesnya di laman resmi SBMPTN 2014 http://www.sbmptn.or.id pada pukul 17.00.

Sumber Informasi Calon Mahasiswa Memilih Tempat Studi

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi banyak membawa perubahan pula pada penggunaan media komunikasi di kalangan siswa. Mereka mulai banyak mengakses media baru ini pada saat mencari informasi untuk menentukan pilihan studi lanjut selepas SMA. Internet menjadi alternatif pilihan yang dipergunakan calon mahasiswa ketika mencari informasi.

Penggunaan internet dengan melihat pada  web site perguruan tinggi dapat dijadikan sumber rujukan yang relevan dan akurat mengenai pendidikan yang diselenggarakan. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi umumnya sekarang ini sudah memiliki situs resmi yang bisa diakses semua pihak yang ingin mengetahui seluk beluk perguruan tinggi yang bersangkutan. Bahkan dalam hal memerlukan informasi yang cepat dalam waktu singkat, internet dapat dioptimalkan pemanfaataannya.

Pemanfaatan Sumber Informasi Saat Memilih Tempat Studi

Menggunakan internet untuk keperluan mencari informasi tentang kampus dikarenakan tidak mendapatkan informasi dari sekolah melalui guru bimbingan dan konseling. Hal ini disebabkan sekolah yang bersangkutan kemungkinan tidak mendapatkan penyebaran brosur atau leaflet dari kampus yang dibutuhkan informan, sehingga informan merasa perlu berinisiatif mencari sendiri melalui jalur lain yang memungkinkan untuk dapat diaksesnya informasi tersebut.

Kondisi ini menandakan bahwa keinginan mencari informasi mengenai perguruan tinggi dalam rangka studi lanjut belum menjadi prioritas pertama dan utama melalui internet. Pemuasan keinginan akan hiburan dan pertemanan lebih diutamakan. Bagi informan yang mencari informasi mengenai perguruan tinggi melalui internet, umumnya yang ingin diketahui meliputi fasilitas pendidikan yang dimiliki, gedung perkuliahan, biaya pendidikan yang ditawarkan.

Artikel yang Terkait:

Strategi Pembelajaran IPS

Tesis Pendidikan~Pengaruh Strategi Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar IPS Sejarah Ditinjau Dari Kreativitas Belajar Siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus  Tahun Pelajaran 2008/2009 (Studi Eksperimen Pada SD N 1 Kuwukan Dan Sd N 4 Cranggang)

Pembelajaran IPS

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah Dasar (SD) sebagai salah satu lembaga pendidikan formal dan berjenjang pada tingkat pendidikan dasar, cukup strategis dalam mewujudkan amanat pemerintah di bidang pendidikan. Pelaksanaan aspirasi tersebut tertuang dalam pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar yang menyatakan bahwa, Pendidikan Dasar bertujuan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (Depdiknas, 1994 : 3).

Permasalahan di bidang  pendidikan yang dihadapi adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak siswa, yang berakibat hilangnya kepribadian dan kesadaran akan makna hakiki kehidupan. Mata pelajaran yang berorientasi akhlak dan moralitas serta  pendidikan agama kurang diberikan dalam bentuk latihan-latihan pengalaman untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari (GBHN 2002 : 12). Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa disebabkan oleh berbagai faktor dari dalam siswa sebagai pebelajar dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan terutama lingkungan sekolah yaitu proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkualitas dapat mempengaruhi, dalam arti meningkatkan prestasi belajar siswa. Sesuai yang dikemukakan oleh Nana Sudjana, (2004 : 40) bahwa kedua faktor tersebut (kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran) mempunyai hubungan yang lurus dengan hasil belajar siswa. Artinya semakin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran, semakin tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran demi tercapainya tujuan pendidikan, guru menempati posisi yang sangat penting.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Adakah perbedaan pengaruh antara strategi pembelajaran  terhadap prestasi belajar IPS sejarah siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus?
  2. Adakah perbedaan pengaruh antara kreativitas belajar pada kategori tinggi dan kreativitas belajar pada kategori rendah terhadap prestasi belajar IPS sejarah siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus?
  3. Adakah pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan kreativitas belajar dengan prestasi belajar IPS Sejarah siswa SD Negeri  Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

  1. Adanya pengaruh antara strategi pembelajaran terhadap prestasi belajar IPS sejarah siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
  2. Adanya pengaruh antara kreativitas belajar pada kategori tinggi dan kreativitas belajar pada kategori rendah terhadap prestasi belajar IPS sejarah siswa SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
  3. Adanya prngaruh  interaksi antara strategi pembelajaran dan keativitas belajar  dengan prestasi belajar IPS sejarah siswa   SD Negeri Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan:

  1. Ada pengaruh strategi pembelajaran kooperatif dan individual terhadap prestasi belajar IPS Sejarah. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan penerapan strategi pembelajaran kooperatif prestasi belajar siswa lebih baik dibandingkan dengan strategi pembelajaran individual, karena dalam penerapan strategi pembelajaran kooperatif siswa dilatih untuk saling bekerjasama memecahkan masalah yang dihadapi sehingga dapat saling bertukar pendapat danbertukar pengalaman dalam menghadapi hal-hal tertentu.
  2. Ada pengaruh kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS Sejarah. Kreativitas dalam belajar sangatlah penting dimiliki siswa, karena dengan kreativitas yang tinggi siswa akan dapat berinovasi dalam belajar, mencoba sesuatu yang pada akhirnya diharapkan akan memunculkan ide-ide yang baru yang akan mempermudah siswa dalam menerapkan cara belajar yang paling efektif bagi dirinya.
  3. Ada pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar IPS Sejarah. Prestasi belajar siswa sedikit banyak tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas, dengan penerapan strategi.

Artikel yang Terkait:

Referensi Buku dan Jurnal tentang Sekolah Bertaraf Internasional

  • Adi Wijaya dan Fianti. Konsep Sekolah Bertaraf internasional. http:// forum rsbi.net/index.php? pa ge=6 /. (diakses 12 Maret 2010).
  • Ahmad Rizali. Sekolah Bertaraf Internasional: Program Gagal ?. http://ahmadrizali.com/index.php/2008/09/27/sekolah-bertaraf- internasional-sbiprogramgagal/. (diakses 12 Maret 2010).
  • Anggi Ariani. 2009. Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) (Studi Pelaksanaan Rintisan SBI di SMA Negeri 1 Surakarta). Surakarta. Tesis
  • Anthony Glenda and Walshaw Margaret. 2009. “Characteristics of Effective Teaching of Mathematics: A View from the West”. Dalam Journal of Mathematics Education Vol. 2, No. 2. New Zealand:Massey University
  • Awaluddin Tjalla. 2008. Potret Mutu Pendidikan Indonesia Ditinjau dari Hasil- hasil Studi Internasional. Universitas Negeri Jakarta.
  • Azimmatul Ihwah. 2009. Profil Siswa Kelas Rintisan SMA Bertaraf Internasional (SMABI) di SMA Majelis Tafsir AL-Qur’an (SMATA) Syrakarta dalam Belajar Konsep Matematika Ditinjau dari Intelligence Quotient (IQ) Siswa Tahun Ajaran 2008/2009. Surakarta. Skripsi
  • Budiharjo. 2006. Penerapan Pemahaman Konsep Penalaran dan Komunikasi Pemecahan Masalah Pada Penulisan Soal. Jawa Tengah: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
  • Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surakarta: UNS Press
  • B. Yushau and M. A. Bokhari.2003.Language and Mathematics (A Mediational Approach to Bilingual Arabs). Dhahran: Department of Mathematical Sciences King Fahd University of Petroleum & Minerals
  • Hasan Alwi. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta
  • HB. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press
  • H.M Zainudin. 2009. Reformasi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Pelajar
  • Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Masthoni. Memahami Kembali Definisi dan Deskripsi Matematika. http:// masthoni.wordpress.com/2009/07/12/melihat-kembalidefinisi-dan deskri psi matematika). (diakses 30 Maret 2010).
  • Medinat F. Salman.2009. “Active learning Techniques In mathematics Workshop Nigerian Primary School Teacher’s Assesment”. Dalam International Electronic Journal of Mathematics Education Volume 4, Number 1.
  • Moh.Tomtom Makmur. Sekolah Bertaraf internasional. http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/message/34439.htm. (diakses 12 Maret 2010).
  • Nana Syaodih Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
  • Satria Dharma. Sekolah bertaraf Internasional. http://satriadharma.wordpress.co m/2007/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/. (diakses 17 Maret
  • 2010).
Stacey Kaye and MacGregor Mollie.1991.”Difficulties of Students With Limited
  • English Language Skills in Pre-Service Mathematics Education Course 1”. Dalam Mathematics Education Research Journal Vol.3, No 2.University of Melbourne.
  • Sigid Widagdo. 2007. Analisis Pelaksaan Pembelajaran KBK Mata Pelajaran Matematika di SMA N 1 Karanganom. Skripsi
  • Soedjadi R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas
  • Soedjiarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Kompas
  • Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
  • Sumardyono. 2004. Karakteristik matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan penataran guru Matematika
  • Sunar Hendayana. 2008. Indonesia’s Issues and Challenges on Quality Improvement of Mathematics and Science Education. Jakarta:Universitas Indonesia
  • Syarifuddin Asdoris. Pembelajaran Matematika Sekolah. http://Syariefartikel.blog spot.com/. ( Diakses 30 Maret 2010).
  • Tatang M. Amirin. SAMPEL, sampling, dan populasi penelitian (Bagian II: Tekniksampling II).http://tatangmanguny.wordpress.com/2009/06/30/sam
  • pel-sampling-dan-populasi-penelitian-bagian-ii-teknik-sampling-ii/. (Diakses 24 April 2010).
  • Tatang M. Amirin.2002. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kemampuan Dasar SMU. Jakarta: Depdiknas.
  • Tatang M. Amirin . 2008. Laporan Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Rintisa SMA Bertaraf Internasional Tahun pelajaran 2007/2008. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
  • Tatang M. Amirin . 2008. Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
  • Tatang M. Amirin . 2010.Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional Edisi ke Empat. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional
  • Republik Indonesia Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
  • Tatang M. Amirin . 2008. Executive Summary Laporan Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi Kinerja penyelenggaraan Rintisan SMA Bertaraf Internasional Tahun Ajaran 2007/2008. Depdiknas Dirjen Mandikdasmen Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas

Buku Pendidikan Karakter

Buku Pendidikan Karakter
Buku Pendidikan Karakter

Buku Pendidikan Karakter~ Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan, tentu saja dibutuhkan sebuah media pembelajaran yang utama dan yang paling umum ialah buku.

Buku sebagai media pembelajaran dalam pendidikan sangat bermanfaat dalam mengantarkan para peserta didik menuju wawasan yang lebih jauh dan luas. Tak terkecuali dalam pendidikan karakter.

Sudah menjadi perbincangan dikalangan para tenaga pendidik beserta komponen pendidikan yang lainnya bahwa pada tanggal 2 Mei 2010 bapak presiden kita Susilo Bambang Yudoyono menetapkan tanggal tersebut ke dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Hal tersebut diiringi dengan semakin gencar-gencarnya pemerintah mencanangkan wajib belajar 19 tahun. Hal tersebut dapat diharapkan sebagai sarana penunjang untuk meningkatkan taraf keidupan bangsa kita, serta sesuai dengan tujuan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan pelaksanaan pendidikan tentu saja membutuhkan sebuah media yang pada awl paragraf telah disampaikan bahwa buku merupakan media nomor satu yang harus dimiliki oleh setiap lembaga penddikan terutama peserta didik. Akan tetapi dengan kondisi ekonomi buruk yang dialami oleh kebanyakan peserta didik, memngakibatkan tidak semua peserta didik emiliki buku sebagai bahan acuan belajar.

Akan tetapi setelah ditetapkannya hari pendidikan nasional tersebut, pemerintah juga mengeluarkan buku elektronik sekolah atau BSE sebagai sarana penunjang belajar, buku tersebut dapat dijangkau oleh setiap kalangan mengingat harganya yang terjangkau dan juga sudah memenuhi standart isi yang dibutuhkan oleh peserta didik.

Kerusakan moral yang diakibatakan dengan semakin gencarnya arus globalisasi yang berdampak buruk bagi anak bangsa, sudah semestinya menjadi sebuah perhaian khusus bagi setiap golongan. Dengan artian masalah tersebut tidak hanya menjadi urusan pemerintah saja tetapi juga masyarakat yang ikut merasakan dampak dari arus globalisasi tersebut.

Apa dan bagaimana sebenarnya pendidikan karakter tersebut? Semuanya dapat disimak dalam buku yang bertemakan pendidikan karakter. Tujuan dari buku pendidikan karakter tak lain ialah memberika pedoman kepada khalayak bagaimana cara dan sika seseorang yang telah memiliki karakter yang baik dan berpendidikan.

Dalam pendidikan karakter sendiri juga telah memberikan berbagai wawasan yang luas mengenai moral bangsa kita. Perbaikan rusaknya moral bangsa dapat diperbaiki melalui pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai moral pancasila dan menanamkan sifat akan takut Tuhan YME akan menjadikan setiap anak bangsa berperilaku baik dan menjadiakn setiap anak didik memiliki kualitas yang baik.

Dari sinilah kita ketahui bahwa pendidikan karakter yang tujuan utamanya ialah membentuk karakter anak bangsa yang yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Sehingga pendidikan karakter sendiri memiliki fungsi utamanya yaitumengembangkan potensi dasar peserta didik, baik dalam berpikir maupun berperilaku dalam masyarakat selain itu pendidikan karakter berfungsi sebagai peningkat peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karakter sendiri memiliki ciri-ciri dasar yang diungkapkan oleh ahli pendidikan yang berasal dari Jerman yaitu FW Foerster, ia mengungkapkan bahwa ciri utma dari pendidikan karakter ialah suatu pendidikan yang menekan setiap tindakan peserta didik berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Selain itu peserta didik akan memiliki suatu sikap yang tegus serta setia atas komitmen yang nantinya akan dipilih.

Demikian artikel yang mebahas mengenai Buku Pendidikan Karakter, Faktor Pendidikan Karakter, Fungsi Pendidikan Karakter. Semoga artikel ini dapat bermanfaat sebagai bahan acuan refrensi anda.

Artikel Yang Terkait:

Kesehatan reproduksi Remaja

Penyimpangan Seks Remaja~ Kesehatan reproduksi Remaja sebagai Bentuk Pendidikan Seks Remaja

Perilaku RemajaRemaja merupakan salah satu masa yang paling menyenangkan yang ada dalam tiap kehidupan seseorang. Mengapa demikian ? tentu saja hal tersebut tidak lagi sebatas menyenangkan akan tetapi sangat mengesankan, karena pada saat remaja merupakan masa yang dianggap mampu meneria segala pengetahuan serta dapat melakukan hal-hal yang sangat efisien.

Akan tetapi dengan segala keinginan tahunya, dengan segala keatifitasannya dapat menimbulkan pengaruh yang sangat negatif jika pada masa perkembangan tidak dilakukan sosialisasi yang sempurna dari lingkungan dimana ia tinggal.

Lingkungan sosial yang paling primer yang selalu ingin dilepaskan oleh remaja adalah keluarganya. Pada saat masa remaja, seseoarang akan cenderung menolak semua nasihat dan perintah yang telah diberikan kepada orang tuanya. Ia menganggap bahwa orang tua selalu membatasi segala gerak-gerik yang ingin ia lakukan.

Hal tersebut tidak dapat dipungkiri, dengan mengingat bahwa psikologis yang terjadi pada remaja cenderung sangat berbeda dengan kedua orangtuanya. Sehingga keluarga yang dianggap sebagai agen sosial juga harus membentuk suatu sosialisasi yang sempurna antara anak dan orang tua.

Sehingga dalam pencegahan tindakan penyimpangan yang umum dilakukan oleh remaja dapat dilaksanakan dengan optimal. Selain itu pendidikan yang diajarkan oleh remaja tidak hanya pendidikan yang bersifat akademis umum, akan tetapi juga harus bersifat lebih intim dalam artian memberikan pengarahan kepada remaja tentang apa saja yang ada pada dirinya.

Berbicara masalah pendidikan pada remaja, pada saat ini lebih banyak disosialisasikan kesehatan reproduksi remaja. Mengapa seperti itu ? lihat saja maraknya kasus pembunuhan bayi hasil hamil diluar nikah para remaja, sempat membuat heboh dunia pendidikan.

Remaja yang melakukan hubungan seks pada saat remaja cenederung tidak mengerti dengan benar apa arti dari kesehatan reprodusi tersebut. Sehingga mereka dengan bebas dan dapat dibilang ngawur saat melakukan seks diluar nikah.

Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja merupakan suatu kondsi yang terjadi pada remaja pada umumnya yang menyangkut segal sistem serta fungsi dari reproduksi. Kesehatan reproduksi pada remaja tidak menyangkut kesehatan organ yang ada pada dirinya akan tetapi juga menyangkut kesehatan yang ada pada mental remaja itu sendiri.

Pentinganya pendidikan tentang kesehatan remaja dialasankan pada sejumlah kasus yang pada saat ini sering menimpa para remaja, seperti usia pubertas yang relatif dini, hubungan pranikah dan aborsi, pengetahuan yang kurang akan penyakit menular seksual.

Pengertian Pendidikan Seks

Pendidikan seks merupakan suatu metode pendidikan yang digunakan untuk menanggulangai atau mengurangi penyalahgunaan seks bebas dikalangan remaja. Pendidikan seks bebas secara khusus diperuntukkan oleh remaja agar tidak terjadinya dampak-dampak yang tidak diinginkan.

Dampak-danpak tersebut dapat berupa penyakit menular seksual, depresis, merasa berdosa dan sebagainya. Dampak inilah yang akan dikurangi sejak dini, karena dampak tersebut dapat mengganggu mental atau sikap seseorang ketika menginjak usia dewasa.

Demikian artikel yang membahas mengenai Pendidikan Remaja, Pendidikan Seks, Pengertian Kesehatan Reproduksi, Perilaku Menyimpang Remaja. Semoga artikel yang Kami sajikan mampu memeberikan wawasan yang luas untuk Anda.

Artikel yang terkait: